Imam Ahmad menuturkan, “Abdullah bin Amr berkisah, `suatu ketika kami berada di dekat Rasulullah SAW, kemudian ada seorang Badui datang. Ia mengenakan jubah panjang dengan manset sutera. Badui itu bersesumbar, ketahuilah! Kawan kalian ini telah mengalahkan semua jagoan keturunan jagoan, dan mengangkat semua pemimpin keturunan pemimpin’.”

Rasulullah kemudian meraih kerah jubah si Badui dan berkata, “Kau terlihat mengenakan pakaian orang yang tak berakal.” Setelah itu, beliau mengatakan, “Menjelang kematian, Nabi Nuh berkata kepada anaknya, `sungguh aku akan menyampaikan wasiat kepadamu. Aku perintahkan dua hal padamu dan aku melarangmu melakukan dua hal. Aku memerintahkanmu untuk mengucapkan dan mengamalkan la ilaha illallah’.”

“Karena andaikata tujuh langit dan bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan, dan la ilaha illallah diletakkan di sisi lainnya, tentu la ilaha illallah lebih berat darinya karena dengannya segala sesuatu terhubung, karenanya seluruh makhluk diberi rezeki, dan aku melarangmu berbuat syirik dan sombong,” lanjut Nuh, sebagaimana diucapkan Nabi.

Abdullah bin Amr–atau seseorang yang lain–pun bertanya, “Wahai Rasulullah, syirik sudah kami ketahui, lalu apa itu kesombongan? Apakah jika salah seorang dari kami mengenakan dua sandal bagus dengan dua tali sandal bagus pula akan disebut sombong?”

“Tidak,” jawab Rasulullah. “Apakah jika salah seorang di antara kami mengenakan baju bagus disebut sombong?” tanya Abdullah bin Amr. Rasullullah kembali menjawab, “Tidak”.

Tak puas, Abdullah bin Amr terus bertanya, “Apakah jika salah seorang dari kami memiliki teman-teman untuk berkawan disebut sombong?” Lagi-lagi, Rasulullah menjawab, “Tidak.” Akhirnya, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa itu kesombongan?”

Beliau menjawab, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” Kisah serupa juga diriwayatkan Imam At Thabrani.

.