KADANG aku tak habis pikir, mengapa nasibku menyedihkan sekali. Setiap ibadah shalat Jumat, jarang sekali diriku menghuni kotak amal di masjid. Padahal aku bercita-cita ingin memuliakan hidupku di surga-Nya sebagai sarana amal sedekah. Tetapi apa boleh buat manusia masih berhitung untung rugi saat beramal kepada Allah. Sehingga di kotak amal yang paling banyak berkumpul justru uang seribu rupiah. Mereka merayakan hari Jumat seperti hari raya, saling berjabat tangan. Sedangkan aku terasing di dalam dompet menjadikan pesakitan yang kesepian.

Andai saja manusia mengerti cita-citaku, pastinya mereka akan mengantarkan langkahku menuju apa yang kudambakan. Hanya saja, aku bisa mengerti mengapa manusia begitu enggan bersedekah senilai harga diriku. Sebab dalam pikirannya, nominal seratus ribu rupiah terlalu besar. Tetapi mereka belum paham bahwa dengan izin Allah, semakin besar sedekah yang diberikan niscaya semakin besar pula kebaikan yang akan didapat.

Mereka belum tahu, telah dikisahkan di dalam Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, karangan Ibnu Abdil Barr, bahwa Umar bin Khattab radhiallah ‘anhu telah mewasiatkan 1/3 hartanya (untuk kepentingan Islam) yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya melebihi nilai 120.000 (dinar atau dirham). Jika dengan nilai sekarang, setara dengan) 510.000 gr emas = Rp 204.000.000.000,00.

Tahukah balasan apa yang diterimanya? Umar bin Khattab menjadi salah satu dari 10 sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Bukan hanya itu saja, dalam hadis Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, “Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka.”

Allah Maha Kaya, jika kita mengikhlaskan berbagi rezeki di jalan kebaikan dan hanya mengharap rida-Nya, semoga akan mendapat balasan melebihi apa yang kita sedekahkan. Andai pun tiada mewujud bentuk serupa, berprasangka baiklah kepada Allah bahwa rezeki itu dibalas dalam bentuk yang lain. Seperti keluasan ilmu, kesehatan jiwa dan raga, kebahagiaan yang melimpah, semua itu telah nyata di janjikan Allah, sebab dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 261 Allah menjelaskan keutamaan bersedekah.

“Bandingan (derma) orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah, ialah sama seperti sebiji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai; tiap-tiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan melipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendakiNya, dan Allah Maha Luas (rahmat) kurniaNya, lagi Meliputi ilmu pengetahuanNya.”

Begitulah, aku hanya indah di mata manusia namun terasa rendah di mata Allah. Semoga saja manusia yang diberi kekayaan melimpah tidak mengalami nasib buruk sepertiku, diberi derajat yang mulia di dunia dengan bergelimang harta, namun mereka hanya membelanjakan kebutuhan yang tidak meyaran pada kebaikan dan abai pada sedekah. Celakah hidup yang demikian, semoga Allah memberikan ampunan dan menyadarkan mereka agar berlomba-lomba dalam kebaikan.

.