image

(BAB II. SEJARAH BUMI)

II.1. PANGGUNG DRAMA KEHIDUPAN

ALLAH SWT, memilih Bumi sebagai panggung drama kehidupan manusia. Padahal, di alam semesta ini ada bertriliun-triliun benda langit. Dan jutaan diantaranya, diduga mirip dengan Bumi. Akan tetapi, anehnya, sampai sekarang tidak ditemukan sinyal-sinyal kehidupan dari angkasa luar. Langit alam semesta sepi.

Hiruk pikuk kehidupan ternyata hanya terjadi di sebuah planet kecil bernama Bumi. Di sebuah tata surya, di pinggir sebuah galaksi berbentuk cakram, bernama Bima Sakti. Allah memilih planet Bumi yang tak ubahnya seperti “debu angkasa” ini, sebagai panggung drama kehidupan manusia.

QS. Al A’raaf (6) : 25

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ ﴿٢٥﴾

25. “Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.”

Ayat di atas dengan sempurna menjelaskan bahwa sejak awal kehidupannya manusia memang diciptakan di planet ini, selama hidup juga di sini, dan akhirnya mati serta dibangkitannya juga bakal terjadi di Bumi.

Ayat di atas menjadi dasar bagi saya untuk menyusun 3 buah judul buku. Bagian akhir ayat itu menginspirasi saya untuk menyusun buku “TERNYATA AKHIRAT TIDAK KEKAL”.

Bahwa, ternyata manusia bakal dibangkitkan di planet Bumi. Atau dengan kata lain, kehidupan akhirat ternyata terjadi di Bumi. Karena itu, kehidupan akhirat bakal memiliki akhir. Karena suatu ketika nanti Bumi ini bakal lenyap. Hancur dalam kiamat yang kedua. Lebih jelasnya baca buku tersebut.

Bagian tengah ayat itu menginspirasi saya untuk menulis buku lainnya yang berjudul “TAK ADA SIKSA KUBUR?”. Bahwa manusia mati di Bumi. Badannya hancur dilumat Bumi. Sedangkan jiwanya melayang masuk ke alam barzakh, di dimensi yang lebih tinggi.

Buku ini, mengajak anda untuk memahami bagaimana jiwa hidup di alam barzakh tanpa badan. Dan karena itu tidak mengalami siksa yang bersifat fisik. Melainkan merasakan siksaan yang bersifat kejiwaan akibat bisa melihat neraka yang mengerikan.

Dan kini, ayat itu juga menginspirasi saya untuk menulis tentang penciptaan Adam yang sedang anda baca. Bahwa ternyata Adam dilahirkan di Bumi. Hidup bersama keturunannya di Bumi. Dan, berarti sejak awal memang ia diciptakan di Bumi pula. Dengan bahan dasar penciptaan dari tanah Bumi.

Ya, Bumi adalah planet istimewa yang dipilih oleh Allah sebagai panggung drama kehidupan manusia. Tidak planet sesempurna ini yang bisa digunakan sebagai tempat hidup makhluk seperti manusia, selama jutaan tahun. Bahkan sampai rusaknya atau kiamatnya Bumi ini. Kemudian masih diteruskan sampai datangnya hari berbangkit.

Di dalam Al Qur’an Allah bercerita, bahwa Bumi yang sudah rusak pun diperbaiki kembali olehNya agar masih bisa digunakan kembali untuk kehidupan manusia di fase akhirat. Hal ini telah saya ceritakan dalam buku “TERNYATA AKHIRAT TIDAK KEKAL”. Bahwa,  di kiamat pertama, Bumi bakal mengalami kerusakan fatal disebabkan oleh serbuan batu angkasa.

QS. Al Muluk (67) : 16-17

ءَأَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ ٱلْأَرْضَ فَإِذَا هِىَ تَمُورُ ﴿١٦﴾

16. “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa DIA akan menjungkir balikkan Bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba Bumi itu bergoncang?,”

أَمْ أَمِنتُم مَّن فِى ٱلسَّمَآءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا ۖ فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ ﴿١٧﴾

17. “atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”

Begitulah Allah bakal menghancurkan Bumi ini dengan cara mengirimkan badai berbatu dari luar angkasa yang akan menyebabkan musnahnya kehidupan di atasnya. Termasuk manusia. Inilah kerusakan terparah yang bakal dialami oleh Bumi sepanjang sejarahnya yang sudah sekitar 5 miliar tahun.

Namun, Bumi tidak hancur total. Ia masih berbentuk. Bahkan bertambah dengan material dari angkasa luar, yang berasal dari bebatuan angkasa tersebut. Cuma, penghuninya binasa, bersama lingkungan hidup yang rusak fatal.

Sekian juta tahun kemudian, Allah mengembalikan fungsi Bumi. Bahkan lebih baik dari sebelumnya. Dan, manusia dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia.

QS. Ibrahim (14) : 48

يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ ۖ وَبَرَزُوا۟ لِلَّهِ ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّارِ ﴿٤٨﴾

48. “(Yaitu) pada hari (ketika) Bumi diganti dengan Bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

Drama kehidupan manusia memasuki fase akhirat. Kita semua bakal diadili oleh Allah. Siapa yang berdosa masuk ke Neraka. Dan yang beruntung masuk Surga. Hidup bermiliar tahun di Surga atau di Neraka itu, selama Langit dan Bumi masih ada. Kecuali Allah menghendaki yang lain.

Suatu ketika Allah menggulung alam semesta seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Maka seluruh alam semesta, surga dan neraka pun ikut lenyap, kembali ke hadirat Allah Sang Pencipta. Satu episode kehidupan makhluk Allah telah berakhir. Setelah itu apa? Tidak ada lagi informasi di dalam Al Qur’an, kecuali Allah mengatakan: “Inna Rabbaka fa’aalul limaa yuriid.” Sesungguhnya Tuhanmu berbuat sekehendakNya….”

Episode satu selesai, tidak mustahil Allah bakal menciptakan episode dua, episode tiga, dan seterusnya. Karena memang DIA adalah Dzat yang Maha Pencipta.

Dari apa yang saya ceritakan di atas, setidaknya, kita bisa membayangkan bagaimana jalannya drama kehidupan manusia di muka Bumi ini. Lebih khusus lagi, bagaimana Allah menciptakan kehidupan di muka Bumi, termasuk miliaran manusia keturunan Adam.

Next On…

.