image

I.4. MENDORONG ILMU PENGETAHUAN

KEBANYAKAN ummat Islam memisahkan Al Qur’an dengan ilmu pengetahuan. Bahkan lebih jauh, antara agama dengan ilmu pengetahuan. Agama dan Al Qur’an dipersepsi sebagai kebenaran mutlak, sedangkan ilmu pengetahuan atau sains dipersepsi sebagai kebenaran relatif.

Saya tidak akan membahasnya lebih jauh di buku ini, karena sudah saya bahas di buku-buku sebelumnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa Al Qur’an dan Agama Islam justru mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan. Bukan memisahkan diri. Atau, apalagi mematikannya.

Agama Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmuwan. Bahkan memuliakannya. Berulangkali Allah mengatakan di dalam Al Qur’an, bahwa orang yang bisa memahami firman-firmanNya secara baik justru adalah para Ilmuwan alias Ulama.

QS. Faathir (35) : 28

(وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ)

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama (ilmuwan). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Merekalah orang-orang yang takut dengan sebenar-benarnya kepada Allah karena mengetahui betapa dahsyat ilmu Allah dan kekuasaanNya. Mereka benar-benar menyaksikan semua itu terhampar di sekitarnya. Sedangkan orang yang hanya belajar dari teks-teks Al Qur’an tanpa memahami realitas, hanyalah berteori belaka.

QS. Al Mujaadalah (58) : 11

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ)

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang BERIMAN di antaramu dan orang-orang yang diberi ILMU PENGETAHUAN beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

QS. Al ‘Ankabuut (29) : 43

(وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ)

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang BERILMU PENGETAHUAN.”

Kalau Anda membuka-buka Al Qur’an, anda bakal menjumpai ayat-ayat lebih banyak lagi yang memberikan penghargaan kepada para ilmuwan (orang yang berilmu – pengetahuan – pen). Pada dasarnya, Islam adalah agama ilmu pengetahuan. Jadi, salah besar kalau ada yang menjalani agama ini dengan dogma dan ikut-ikutan belaka.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa ingin memperoleh dunia maka ia harus memahami ilmunya. Barangsiapa menginginkan kebahagiaan akhirat ia harus mencarinya dengan ilmu. Dan barangsiapa ingin memperoleh keduanya, mereka juga harus mengjarnya dengan ilmu.”

Islam tidak bisa dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Dalam segala bidang kehidupan. Ilmu pengetahuan sosial maupun pengetahuan alam. Dunia maupun akhirat.

Maka, dalam memahami asal-usul manusia pun kita harus memahami berbagai teks-teks Al Qur’an dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Hasilnya sunggu jauh berbeda dengan pemahaman yang bersifat doktrinal atau legenda-legenda sebagaimana kita bahas di depan.

Saya memperlakukan Al Qur’an sebagai sumber petunjuk yang harus di-cross check atau dipahami lewat data-data keilmuan yang sedang berkembang. Dengan cara itu, bakal terjadi penafsiran yang sangat dinamis seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan.

Bagi saya, memahami isi Al Qur’an adalah seperti pekerjaan seorang detektif yang merekonstruksi sebuah peristiwa yang telah berlalu. Kita hanya punya jejak-jejak pelaku, bekas-bekas kejadian, dan sejumlah barang bukti yang harus disusun untuk menduga terjadinya peristiwa itu di masa lampau.

Tentu saja tidak bisa persis seperti peristiwa sesungguhnya. Peristiwa itu sendiri sudah berlalu. Dan itulah *kebenaran* yang sesungguhnya. Sedangkan yang kita lakukan kini, tak lebih hanyalah sebuah rekonstruksi.

Sama dengan Al Qur’an. Kebenaran yang sesungguhnya tersimpan di dalam Al Qur’an, sedangkan tafsiran kita adalah semata-mata upaya berdasarkan perkiraan. Sangat dipengaruhi oleh BACKGROUND ilmu yang kita miliki. Sekaligus kejadian dan kepiawaian dalam melakukan rekonstruksi.

Maka, yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan data dan bukti sebanyak-banyaknya agar bisa melakukan rekonstruksi mendekati sempurna.

Dengan kata lain, Allah sedang mendorong kita untuk berilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar kita bisa memahami petunjuk-petunjukNya di dalam Al Qur’an. Semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita miliki, semakin bagus penafsiran yang kita lakukan.

Jadi, sebenarnya Al Qur’an adalah agama yang mendorong ummatnya untuk berilmu pengetahuan seluas-luasnya. Sedalam-dalamnya. Dan seahli-ahlinya. Tujuannya cuma satu : agar kita memahami petunjukNya dengan lebih baik, dan berguna untuk menerangi jalan hidup kita memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnyalah Allah sangat menyayangi kita.

Dalam ayat yang saya kutip di atas pun, Allah memberikan penegasan : “dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu pengetahuan.”

Ditambahkan di ayat lainnya : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya, hanyalah para ulama (ilmuwan).”

Dan di berbagai ayat Allah mendorong lebih spesifik lagi dengan pertanyaan-pertanyaan: “Apakah kalian tidak meneliti bagaimana Allah menciptakan unta? Bagaimana Allah meninggikan langit? Bagaimana Allah menegakkan gunung? Bagaimana Allah menghamparkan daratan? Bagaimana Allah menurunkan air hujan, menciptakan lautan dengan segala isinya, mempergantikan siang dan malam, memerintahkan lebah mengumpulkan madu, dan sebagainya.”

Semua itu adalah sebuah dorongan untuk berilmu pengetahuan seluas-luasnya. Sampai-sampai Allah mengatakan, DIA tidak malu membuat nyamuk sebagai contoh ciptaan. Bahkan terhadap makhluk yang lebih rendah sekalipun. Sesungguhnya, di dalam contoh-contoh itu terkandung ilmu pengetahuan yang sangat dalam bagi para ulama (ilmuwan).

QS. Al Baqarah (2) : 26

(إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ)

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,”

Karena itu tidak heran Allah lantas mengatakan :

(يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang beri ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Inilah agama Islam. Agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Dan kemudian memberikan apresiasi yang tinggi kepada para ulama atau ilmuwan yang mengamalkan dan mengorientasikan ilmunya di jalan Allah. Mereka orang-orang yang mulia di dunia, mulia di di akhirat, dan mulia di sisi Allah.

QS. Al Hajj (22) : 50

(فَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ)

“Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia.”

Next On…..

.