image

I.2. DOKTRIN AGAMAWAN

SIMPANG siurnya pemahaman tentang penciptaan Adam disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya adalah bercampurnya informasi dari ketiga agama besar keturunan Ibrahim – Yahudi, Nasrani, Islam. Sehingga memerlukan telaah kritis agar kita memiliki kepahaman yang lebih murni.

Yang kedua, kesimpangsiuran itu juga disebabkan oleh tidak utuhnya kita dalam menyerap informasi sesuai petunjuk Al Qur’an. Kebanyakan kita tidak mengambil ayat-ayat Al Qur’an secara utuh dan holistic. Sehingga memunculkan kepahaman sepotong. Padahal sebenarnya, Al Qur’an adalah sumber informasi yang sangat akurat dan holistic, asalkan diambil secara utuh. Selalu ada informasi baru yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta bukti-bukti ilmiah.

Di bagian-bagian tertentu seringkali Al Qur’an mendorong ummat manusia untuk melakukan pengamatan dan penelitian langsung ke alam sekitarnya, untuk memperoleh data-data ilmiah yang lebih detil. Karena itu, memahami ayat-ayat Al Quran akan sangat baik jika ditinjau dari sudut pandang ilmiah.

Banyak di antara kita yang alergi untuk memahami Al Quran dari sudut pandang ilmiah dengan alasan Al Quran adalah sebuah kebenaran mutlak dari Allah, sedangkan ilmu pengetahuan adalah kebenaran relatif buatan manusia. Padahal, itu tidak sepenuhnya benar. Justru, kini terbukti, bahwa pemahaman ilmiah ternyata sangat membantu kepahaman kita terhadap informasi Al Qur’an.

Dan saya, termasuk orang yang sangat meyakini kebenaran Al Qur’an justru bakal terbukti dari penemuan-penemuan ilmiah mutakhir. Sayangnya, banyak penelitian modern yanh mendukung kebenaran Al Qur’an itu justru ilmuwan-ilmuwan non muslim. Diantaranya adalah apa yang akan kita bahas dalam bagian-bagian selanjutnya, di dalam buku ini. Yang diharapkan, bakal membuka tirai gelap proses penciptaan Adam dan Hawa. Asalkan kita tidak apriori terlebih dahulu terhadap sudut pandang baru dalam memahami hal ini.

Kebanyakan kita suka dengan legenda. Dan merasa tidak perlu untuk mencari kebnaran legenda itu. Meskipun itu terkait erat dengan asal-usul kita sendiri.

Apalagi, banyak yang kemudian berlindung kepada kekuasaan Allah. “Kalau Allah menghendaki maka apa pun bisa terjadi. Cukup dengan KUN FAYAKUN, maka jadilah ia”. Begitulah yang seringkali kita dengar.

Kita lupa bahwa Allah justru ingin menunjukkan kepada kita betapa agungnya DIA dengan apa yang DIA lakukan. Bukan untuk pasrah tanpa mengambil hikmah dari ilmu-Nya yang luar biasa dahsyatnya itu.

Memang, tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh-Nya. Kalau Allah menghendaki sesuatu, semuanya bakal terjadi. Termasuk, jika DIA menghendaki kita semua menjadi beriman. Akan tetapi, bukankah Allah tidak melakukan itu? Allah menjadikan kita beriman lewat proses panjang yang melibatkan kita untuk berinteraksi dengan-Nya. Berikut ini salah satu firman-Nya.

QS. Yunus (10) : 99

(وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ)

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka Bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Atau di ayat berikut ini Allah mengatakan, jika Allah berkehendak memberikan petunjuk, maka niscaya semuanya dapat petunjuk. Semua serba bisa dipahami. Tak ada lagi rahasia. Tetapi Allah tidak melakukan itu. Allah ingin kita berusaha untuk memperoleh petunjuk itu, sebagai interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya.

QS. Al An’am (6) : 35

ٍ ( وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَىٰ ۚ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ)

“….dan kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil (bodoh – pen).”

Allah menghendaki manusia untuk membuktikan perjuangannya dalam menghambakan diri kepada Allah. Bukan dengan pasrah tanpa usaha. Sebab yang dinilai Allah adalah usaha dan amalan kita. Atau perjuangan dan kesabaran kita. Tidak akan masuk surga orang yang belum terbukti perjuangan dan kesabarannya.

QS. Ali Imran (3) : 142

(أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ)

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad (berjuang dan bekerja keras) di antramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

Beragama adalah perjuangan tiada henti. Untuk memahi petunjuk-petunjuk Allah dan kemudian menerapkan dalam kehidupan nyata. Sayangnya, banyak di antara kita yang menganggap bahwa beragama adalah kepasrahan total tanpa berusaha. Terserah kehendak Allah.

Padahal, Allah justru menghendaki agar kita berusaha keras untuk mendekatkan.diri kepada-Nya. Mengorbankan segala yang kita punya untuk menebarkan sifat-sifat Allah dalam kehidupan nyata sehingga tercapai masyarakat manusia yang sejahtera dunia dan akhirat. Rahmatan Lil ‘Aalamiin.

Dalam konteks yang sedang kita bahas, kalau Allah berkehendak menguak misteri itu secara langsung lewat firman-firmanNya, maka tidak ada kesulitan apa pun. Namun, Allah sengaja menyembunyikan itu agar kita berusaha untuk memperoleh kepahaman yang terbaik.

Allah sudah memancing kita dengan ayat-ayat yang demikian banyak tentang penciptaan manusia. Tinggal, apakah kita mau mempelajarinya lebih jauh. Dan mencari bukti-bukti dari bekas keberadaan mereka di muka Bumi.

Jika tidak, misteri tinggal menjadi misteri. Akan tetapi, jika kita terpanggil untuk mempelajari dan mencari bukti-buktinya, kita bakal *bertemu* dengan Allah dalam proses pencarian itu. Dan ini adalah point yang sangat tinggi nilainya di hadapan Allah. Allah bakal meneguhkan keimanan orang-orang yang melakukan pencarian dalam beragama.

Allah mendorong setiap muslim untuk melakukan perjalanan di muka Bumi menelusuri jejak-jejak sejarah masa lalu umat-umat sebelum kita. Untuk apa? Untuk membuka mata hati kita. Untuk meneguhkan keimanan kita. Dan pada yang demikian ini terdapat tanda-tanda alias pelajaran penuh hikmah bagi orang-orang yang berakal.

QS. Al Hajj (22) : 46

(أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ)

“…maka apakah mereka tidak berjalan di muka Bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu tang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

QS. Thahaa (20) : 128

(أَفَلَمْ يَهْدِ لَهُمْ كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ يَمْشُونَ فِي مَسَاكِنِهِمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِأُولِي النُّهَىٰ)

“Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya KAMI membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Jadi adalah salah besar, kalau kita memahami Al Qur’an hanya dari sisi bahasa saja. Itu baru permulaan. Kita harus melangkah lebih jauh dengan memahami data-data dan ayat-ayat yang dihamparkan Allah di sekitar kita.

Seorang muslim harus mencocokkan terus menerus petunjuk yang terdapat di dalam Al Qur’an dengan realitas kehidupan sehari-hari yang ada di sekitarnya. Kepahaman atas keduanya itulah yang bakal mengantarkannya kepada syahadat yang sesungguhnya : Sebuah kesaksian bahwa Penguasa alam semesta yang mempesona ini adalah benar-benar Allah, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam konteks penciptaan manusia, kebanyakan kita hanya bertumpu kepada informasi-informasi yang terdapat di dalam Al Qur’an. Memahaminya dari segi bahasa. Lantas berharap memperoleh kesimpulan yang tuntas tentang proses penciptaan itu dengan kata-kata yang eksplisit. Yang ada cuma sinyal-sinyal yang tersebar dalam berbagai ayat Al Qur’an. Allah mendorong kita untuk memahaminya lewat realitas sejarah kemanusiaan.

Celakanya, banyak di antara kita yang langsung menyimpulkan secara sederhana proses penciptaan itu hanya dari sepotong atau dua potong ayat. Padahal, sebagaimana kita ketahui ayat-ayat itu tidak boleh dipahami sebagian. Kita bisa terjebak kepada kepahaman parsial yang menyesatkan. Dan tak jarang bertengkar dengan sesama saudara kita karena berpegang kepada ayat-ayat yang saling berseberangan.

Contoh kasus yang sangat jelas tentang kesalahpahaman dalam memahami ayat Al Qur’an itu saya tuangkan dalam buku “MENGUBAH TAKDIR” dan buku “POLIGAMI YUUK!?” Banyak di antara kita yang memahami ayat-ayat TAKDIR dan ayat-ayat POLIGAMI secara parsial. Lantas menjebak mereka dalam kesalahan yang fatal.

Padahal kalau kita memahaminya secara holistik, kita bakal tahu bahwa ayat-ayat itu sebenarnya tidak berseberangan melainkan saling meengkapi dan saling menjelaskan.

Akan lebih celaka lagi, kalau kesimpulan sepotong itu dipegang sebagai doktrin bagi kelompoknya. Bahwa apa yang mereka pahami itu adalah kebenaran mutlak seperti yang dimaksudkan Allah. Lantas, mengharamkan (dan menyalahkan – pen) kelompok lain yang tidak sepaham dengannya.

Kemunduran dan pertengkaran di dalam tubuh umat Islam sering disebabkan oleh keterbatasan pemahaman seperti itu. Dibarengi dengan sifat arogansi bahwa kita adalah yang paling benar. Lainnya salah. Padahal sungguh Allah tidak menyukai cara yang demikian itu. Allah ingin agar kita menyadari bahwa masing-masing kita belum tentu benar.

QS. An Nahl (16) : 125

(ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ)

“Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan penuh hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu DIA-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dati jalanNya dan DIA-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat di atas dengan sangat gamblang mengajarkan kepada kita bahwa setiap kita berkewajiban untuk mengajak orang lain menuju jalan Allah. Akan tetapi semua itu harus dilakukan dengan cara yang baik. Jika perlu berbantah atau berdiskusi, mesti dilakukan dengan baik pula. Kenapa? Karena cuma Allah saja yang tahu siapa yang tersesat dan siapa yang mendapat petunjuk.

Maka, adalah sebuah kedholiman jika kita saling berebut benar. Yang harus kita lakukan adalah saling mengingatkan dan saling memberi masukan, tanpa harus memaksa pihak lain untuk mengikuti dirinya. Siapa tahu, apa yang kita yakini itu justru yang keliru.

Bukan berati, lantas kita tidak meykini apa yang menjadi kepahaman kita. Bukan. Setiap kita harus mantap terhadap apa yang menjadi keyakinan kita. Karena kalau tidak yakin, kita sendiri tidak akan berani melangkah dalam mengamalkan agama ini.

Setiap orang boleh merasa dirinya benar. Yang tidak boleh adalah merasa dirinya paling benar, dan menafikan orang lain. Bahkan memaksa-maksa untuk mengikuti dirinya. Islam bukan mengajarkan arogansi dan kesombongan melainkan mengajarkan rendah hati.

Allah saja tidak pernah memaksa hambaNya, masa kita mau memaksa mereka. Kalau mau, Allah dengan sangat mudahnya menjadikan semua manusia beriman. Tetapi Allah tidak melakukannya, sebagaimana difirmankan dalam ayat berikut ini.

QS. Yunus (10) : 99

(وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ)

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang-orang yang di muka Bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”

Kalau anda mengikuti berbagai tulisan saya dalam serial diskusi tasawwuf modern, maka insyaAllah anda telah memahami makna iman yang seharusnya kita miliki. Bahwa iman adalah sebuah keyakinan yang diperoleh lewat pemahaman keilmuan. Jadi, subtansinya bukan dogma, melainkan pemahaman dan pembelajaran sampai memperoleh keyakinan.

Maka, ketika Allah mengatakan tidak akan memaksa seseorang untuk beriman, sesungguhnyalah memang tidak ada keyakinan yang bisa dipaksa-paksakan. Keyakinan hanya bisa diperoleh dengan cara memahami dan menyaksikan bukti-bukti keberadaanNya. Itulah yang disebut sebagai HAQQUL YAQIN (Keyakinan yang sesungguhnya -atau sebenarnya-pen). Bukan ‘AINUL YAQIN (Keyakinan berdasar penglihatan). Atau apalagi sekedar ‘ILMUL YAQIN (Keyakinan yang hanya dikarenakan ‘kata orang’)

Dengan demikian, keimanan atas proses penciptaan manusia harus diperoleh dengan cara mempelajari dan memahami segala aspek yang terkait dengannya. Dimulai dari pemahaman ayat-ayat Al Qur’an secara holistik, kemudian dilanjutkan dengan mencari bukti-bukti ilmiah dari sejarah kemanusiaan yang terhampar di sekitar kita. Cara demikian, insyaAllah akan mengantarkan kita kepada keyakinan tertinggi *HAQQUL YAQIN*.

Next On…..

.