***

“MA…., Reni ke sekolah dulu ya…. Assalamu’alaiku m…..”

“Wa’alaikum salam, hati-hati Ren…, selesai sekolah langsung pulang…. Jangan keluyuran….!”

“Ya Ma….”, sambil menciumi tangan ibunda terkasihnya.

PAGI itu, suasana sekolah benar-benar senyap dan sepi, maklum belum ada yang datang sama sekali. Hanya hembusan angin semilir yang sedang bercanda mengisi ruang ruang kelas yang kosong melompong. Bururng burung dan binatang binatang kecil pun malu menginjakkan kakinya di sekolah itu, seolah malu pada angin yang mencurahkan kebahagiaannya di pagi itu. Begitupun Reni yang datang pertama kali. Memang dia selalu berangkat di pagi buta, karena takut terlambat datang bersama putaran kursi rodanya.

DALAM senyap bibirnya berkata, dalam kesendirian hatinya meronta, menahan ejekan alam yang penuh tahta, kala kesedihan, penderitaan dan kesengsaraan.
“Ya Rabb…., kalaulah ini bukan tanda kekuasaan-Mu, betapa aku kian mencabiknya. Kalau semua bukan takdirku, betapa aku akan
lari dari penjara kepedihan seperti ini. Tapi Engkau tahu ya Rabb…., bahwa aku adalah hamba-Mu, kalau bukan kepada Engkau kepada siapa tangan ini aku tengadahkan. Di haribaan-Mu aku berserah diri. Setelah itu…..

“Hmm…. hmm…. hei rupanya si pincang sekarang sudah pandai baca puisi ya, belajar kepada siapa ya?” Ejek seorang temannya.

Mereka yang datang adalah teman teman Reni yang selalu mengganggunya, menghinanya, bahkan mencemoohnya. Namun Reni selalu diam dan bersabar, karena dia tahu bahwa mereka belum sadar atas kelemahan yang juga mereka miliki. Mereka adalah Rudi, May, dan Minah, anak-anak orang kaya dan terpandang yang selalu berenang di lautan mutiara, namun tidak tahu bahwa dirinya selalu diintai oleh mara bahaya.

“Hei pincangm ada apa kamu duduk sendiri di sini? Mana temanmu? Malu ya? Makanya jadi orang jangan pincang…. lihat nih….,” ucap May sambil menempatkan kakinya yang bersepatu di atas kursi roda Reni. Dengan senyum Reni mencoba mengusir kemarahan dan kesedihan yang dialaminya.

“Temanku…., terima kasih atas saranmu, semoga yang kamu katakan menjadi kenyataan, dan aku bisa bercanda bersama kalian”.

“Siapa yang mau bersenda gurau denga anak lumpug seperti kamu. Walaupun tidak, untuk apa? Gengsi lah….”, jawab Minah sambil
mencibir bibirnya.

“Ya…. Memang aku miskin, aku tidak punya apa-apa di dunia ini, tapi aku punya diriku ini teman. Dan kalian adalah permata-permata yang selalu berkilau di atas pasir-pasir suram di tepi pantai, kalia belum tahu bahwa kalian juga berasal dari pasir-pasir itu, bukanlah permata yang berkilau seketika begitu saja.
Namun begitulah kehidupan…”

“Setan…, kamu menghina kita..!”, bentak Rudi sambil mendorong kursi roda Reni dengan keras.
“Apa yang kamu andalkan di sini?
Apakah kakimu yang seperti itu bisa untuk menendang kita? Weekz….”

“Ya…. Rabb…. berilah mereka petunjuk, bukakan hati mereka, wahai Engkau Dzat yang selalu menunjukkan jalan. Jangan biarkan mereka tenggelam dan tersesat dalam dunianya….” Reni berdoa untuk teman-temannya.

“Hei pincang, sekali lagi kau ulangi kata-katamu, maka aku patahkan kursi rodamu itu….”, gertak Minah yang badannya lumayan gemuk.

“Teman… Allah menciptakan mata untuk melihat, bukan yang lain. DIA ciptakan telinga untuk mendengar, begitupun lisan kita, hanya untuk berbicara, apakah kita tidak mau untuk dikatakan sebagai hamba-Nya yang bersyukur? Maka selayaknyalah kita mengungkapkan kata-kata yang baik-baik untuk kemaslahatan yang lain”, jawab Reni dengan nada yang begitu halus dan penuh tatakrama, tapi mereka yang diselimuti oleh
hawa setan tidak pernah mau
mendengarkan, apalagi mengartikannya.

“Masih saja banyak bicara, rasakan ini….!” serentak Rudi, May dan Minah hendak menendang kursi roda Reni, namun…..

“Rudi, May, Minah….!” Bentak Zulfan yang datang dari belakang mereka, serentak mereka menoleh ke sumber suara itu.
Sementara Reni diam saja seoalah-olah tidak terjadi apa-apa.
“Apa yang akan kalian lakukan terhadap orang yang tidak beradaya begini, apakah hati kalian sudah buta, atau kalian sudah tidak punya rasa prikemanusiaan lagi….?”

“Tutup mulutmu Fan, jangan biarkan tangan kami menampar pipi kamu, sudahlah jangan turut campur…!”

Besambung—

.