9 tempat itu adalah:

• Surah Al Jatsiyah: 23
“Apakah engkau mengetahui orang yang memper”tuhan”kan hawa nafsunya?”

• Surah Muhammad: 19
“Maka ketahuilah! Bahwasanya tiada “Tuhan” selain Allah. Dan mohon ampunlah kepada-Nya
semua kesalahanmu dan kesalahan orang-orang beriman baik pria maupun wanita! Allah Maha Mengetahui Tempat bekerjamu dan tempat beristirahatmu. ”

• Surah Al Baqarah: 163
“Tuhanmu Tuhan Yang ESA. Tidak ada Tuhan melainkan DIA. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.”

• Surah Al Baqarah: 255
“Tiada Tuhan melainkan DIA. Yang Maha Hidup Lagi Maha Menata. Tidak mengantuk dan tidak pula
tidur…”

• Surah Al ‘Alaq: 1-5
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * DIA telah menciptakan manusia dari
segumpal darah * Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah
* Yang mengajar manusia dengan
perantaraan pena * DIA mengajarkan kepada manusia apa apa yang tidak diketahuinya… ”

• Surah Al A’la: 1-5
“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Paling Tinggi * Yang menciptakan dan menyempurnakan ciptaan-Nya * Yang menetukan kadar dan fungsi masing-masing lalu memberikan petunjuk (cara
menggunakannya) * Yang menumbuhkan rumput-rumputan * Lalu dijadikan-Nya rumput itu kehitam-hitaman *

• Surah Al Fatihah: 4
“Yang menguasai hari pembalasan.“

• Surah An Naas : 2
“Yang merajai manusia.”

• Surah Al Furqan : 44
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya…”

***

Ada tiga hal tentang Tuhan yang aku temukan dalam ayat-ayat di atas. Yaitu penyebutan kata, “(Rabb”, “Maalik”, “Ilaah”), dan “Allah” itu sendiri.

Pada Surah Al ‘Alaq 1-5 ada empat kata kerja yang melekat pada kata “RABB” yaitu “menciptakan” (QS.
96: 1-2) dan “mengajar” (QS. 96 : 4-5).

Kemudian pada Surah Al-A’la 1-5 ada kata kerja “menciptakan” ( QS. 87: 2), “menentukan” dan “memberi petunjuk” (QS. 87 : 3), dan “menjadikan” (QS. 87 : 5).

Itu berarti “RABB” adalah Tuhan yang selalu aktif. Jadi DIA hidup dan ada dengan sesungguhnya, bukan ada dalam fikiran saja.

Pada Surah Al Fatihah : 4, dan Surah An Naas : 2, terdapat kata “MAALIK” yang berarti raja. Itu berarti Maalik menunjuk pada Tuhan yang berkuasa, mempunyai, merajai, menguasai atau memiliki sesuatu.

Pada Surah Al Fatihah : 4 disebutkan “Yang menguasai hari
pembalasan”, dan di Surah An
Naas : 2 disebutkan “Yang merajai
manusia.” Maka jika dibuat secara kronologis, kedudukan “Maalik” ini setingkat setelah “Rabb”.

Artinya apabila “Rabb” itu menunjuk pada yang berbuat aktif, maka maalik akan menunjuk yang menguasai semua apa yang telah diperbuat-Nya tadi.

Karena kedua kata itu melekat pada Allah, maka berarti bahwa “ALLAH ITU PENCIPTA ALAM, DAN
DIALAH YANG MENGUASAINYA.”

***

Aku sempat terhenti berfikir ketika aku menemukan kata “Ilaah”. Karena ada perbedaan
dalam pemaknaannya, meskipun
memiliki arti sama yaitu “sesembahan.”

Dimana pada QS. Al-Furqan : 44, Al Jatsiyah : 23, Al-Baqarah : 163, Al-Baqarah : 255, dan QS. Muhammad : 19, terdapat dua keterangan yang berbeda. Pada Al-Jatsiyah : 23, dan Al Furqan : 44, kata “ilaah” melekat pada hawa nafsu manusia, sedangkan Al-Baqarah : 163, Muhammad : 19, dan Al-Baqarah : 255, kata “ilaah” melekat pada “Allah.”

Aku lantas mencari tahu di beberapa buku tafsir tentang “ilaah” itu, dan akhirnya kutemukan jawabannya. Perbedaan pelekatan“ilaah” itu
dimaksudkan adalah untuk membedakan apakah seseorang itu muslim atau tidak. Karena “ilaah” mempunyai arti sebagai yang disembah dengan sebenarnya dan tidak sebenarnya.

Maksudnya, apa saja yang disembah manusia, itu “ilaah” namanya. Baik itu manusia yang
mempertuhankan Allah, maupun manusia yang mempertuhankan hawa nafsunya.

Akhirnya kata “ilaah” inilah yang kemudian membukakan gerbang
pikiranku dalam menemukan Tuhan yang HARUS aku sembah.
Karena berdasarkan apa yang kubaca itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa konsep ketuhanan yang sempurna itu berkaitan dengan
pengakuan, pelaksanaan, dan kesadaran bahwa hanya Allah-lah yang patut untuk disembah. Sebab, tanpa sadar manusia umumnya banyak yang tertipu pada sesuatu yang abstrak seperti kekayaan, kekuasaan, atau sifat-sifat semu lainnya, sehingga tak jarang manusia banyak yang “menyembah” idolanya, atau benda-benda dengan sifat-sifat
yang “semu.”

Bersambung—

.