SETIAP pagi di mana mentari menyapu bumi dengan rona indah di wajahnya, ia datang
bagai ratu yang bertahta di atas permadani indah penuh warna. Kala itu, dunia hidup kembali setelah terlelap dalam rayuan dan
pangkuan malam, ilalang bergoyang ria ditetesi embun pagi nan sejuk.

PAGI ITU, disaksikan angin pagi yang mendendangkan senandung semilir nan indah, Renita Elfari – anak berusia 15 tahunan – duduk di hadapan kali yang menghadap
rumahnya. Sesekali air matanya menetes bagai embun di pagi itu. Ooo…. Betapa ia memikirkan masa depannya, masa depan seorang gadis mungil yang ditakdirkan hidup dan tumbuh di atas kursi roda, tak dapat dibayangkan betapa rembulan pun ikut merasakan kesedihan bunga yang mekar ini.

IA PUN belum pernah merasakan belaian kasih ayahandanya. Ia ditinggalkan semenjak ia mengenal dunia ini dalam bayangan maya, hanya ibundanyalah yang selalu mencurahkan mutiara kasih sayang untuknya.

DALAM diam hatinya berbisik, ” Reni, jangan sedih, jangan putus asa, tegarkan hatimu, tengadahkan mukamu ke depan, katakan bahwa dirimu bisa, singkirkan segala resah dan gelisahmu, maka dirimu akan menggapai citamu.”

GEMURUH gelombang di dadanya semakin berkecamuk bagaikan badai dilautan, menghantam karam di pinggiran, yaa…., hanya gemuruh itu yang ada dalam setiap detik lamunannya yang memaksa gemericik air untuk menetes dari bukit pasir nan
lembab di wajahnya.

“RENI…., apa yang kamu lakukan nak, apa pula yang kamu lamunkan sayang..? Dan apa yang
Reni tangisi..? Apa kasih sayang mama kurang memuaskan untuk Reni, atau ada hal yang lain..? Sapa mamanya yang melihat warna kesedihan terbayang di muka Reni, yang tersembunyi di balik kuntum air mata yang keburu ia seka setelah mendengar kata-kata mamanya.

“TIDAK Ma…, tidak ada yang terjadi atau yang berubah pada diri Reni…”, sahutnya.

“JANGAN bohongi diri sendiri dan jangan bohongi mama, coba apa yang sedang Reni pikirkan…? Katakan kepada mama, biar mama tidak bingung untuk mencari solusinya, ya… sayang…?”

“APA YANG harus Reni katakan ma, telah dapat mama baca di setiap butir air mata Reni, karena tidah mudah bagi Reni untuk
mengungkapkannya dengan noktah kalimat dan kata-kata”.

“RENI, mama tahu, bahwa kebajika seseorang tidak bisa hanya dibuktikan dengan bingkai
kata-kata, tapi ingat sayang, bahwa kebajikan itu sendiri adalah suatu makna yang tersembunyi di balik kata-kata itu sendiri, dan dari pembicaraannyalah seseorang bisa dikatakan…”.

SEJENAK keduanya terdiam, hanya desah nafas dan rintihan nurani mereka yang berbicara, berbisik dan beradu. Reni merasakan kesejukan embun yang merasuk ke dalam sanubarinya, Seorang mama yang amat ia cintai.

“RENI, kita harus bertawakkal kepada Allah sayang, karena DIA-lah yang telah menciptakan kita, membentuk kita sehingga seperti ini, sabarlah sayang…., jangan meratapi nasib yang sudah begini…”

“Ya ma, Reni tahu bahwa hidup ini adalah tetap berada di tangan-Nya, tapi mengapa, Reni selalu dikuasai oleh perasaan yang menghimpit jiwa, seolah ada sesuatu yang akan terjadi…”

“SUDAHLAH Ren,,, jangan bepikrian yang bukan-bukan…, sekarang sarapan dulu yaaa…., tuh mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu, dan setelah itu Reni harus cepat-cepat pergi ke sekolah, yaa,,, kan…??”

MAKA beranjaklah keduanya menuju meja hidangan yang telah tersusun rapi. Betapa Reni bahagia ketika sang mama mendorong
kursi rodanya. Mama yang merupakan satu-satunya orang yang ian punyai di dunia ini.

Bersambung—

.