Hingga suatu ketika, sahabat gerejaku tadi datang dan membahas lagi masalah ini. Dan
aku pun dengan amat yakin
menjawab :
“Allah itu tiada permulaannya dan tiada pengakhirannya, tidak ber-anak dan tidak diper-anak-kan (Tidak dilahirkan atau tidak
menjadi anak -el ghibran). Allah juga dzat yang bersifat ghaib, sehingga tak seorang pun bisa melihat-Nya karena Dia berupa dzat, bukan benda.”

“Karenanya, jika kita berbicara tentang eksistensi ketuhanan, maka yang bisa disentuh hanyalah manifestasi dan sifat sifat-Nya yang Esa. Dalam ilmu matematika sederhana, sebuah bilangan mutlak hanya ada satu. Apa bila ada dua buah bilangan,
bilangan yang pertama mutlak, maka bilangan yang kedua tidaklah mutlak, dan jika bilangan
mutlak itu adalah bilangan yang kedua, maka bilangan yang pertama tidaklah mutlak. Hal itu
karena sifat dari bilangan mutlak adalah menyeluruh dan tidak dapat terbagi-bagi, dan yang tersisa tetaplah hanya ada sesuatu yang satu (mutlak). satu yang mutlak ini tdak akan tersentuh oleh pluralitas, karena pluralitas
hanya menyentuh sesuatu yang memiliki sifat kesatuan.”

Hal ini sesuai dengan penjelasan Al Qur’an, dimana dijelaskan bahwa “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain
Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maha Suci Allah yang
mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan” (Al-Anbiyaa’ 22).

Karena sesuatu yang mutlak selalu ada hanya satu. Inilah manifestasi Al-Ahad dalam sains dan tauhid ini sudah aksiomatis, sehingga eksistensnya tidak membutuhkan
pembuktian, karena alam semesta ini akan membuktikan sendirinya
kebenaran tauhid tersebut.”

Aplikasi sederhananya sebagai berikut, sesuatu yang mutlak itu hanya ada satu dan tidak mungkin terbagi-bagi. Itu intinya. Kita memakai analogi sederhana
seperti ini, anggaplah yang mutlak itu Tuhan, dan ada 2 oknum, lalu kita gunakan bilangan mutlak.

Anggap A adalah Tuhan (Mutlak), kemudian B juga Tuhan (Mutlak). Tidak mungkin ada dua tuhan yang sama-sama mutlak bukan?
Ini sudah tidak sesuai dengan sains. Sehingga kemungkinannya adalah jika A tuhan, maka B
bukan tuhan, dan bila B tuhan, maka A bukan Tuhan.”

“Contoh lain adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia memang ada satu, tetapi dalam bentuk negara kesatuan yang terdiri atas negara-negara bagian. Nah, sendainya wilayah timur Indonesia itu mau
memisahkan diri, tentu sudah tidak mungkin lagi dapat disebut negara kesatuan bukan?

Karena dia sudah tidak utuh lagi. Ini maksud hukum pluralisme yang menyentuh setiap kesatuan.
Hanya saja Tuhan itu tidak memiliki sifat kesatuan, sebagaimana bilangan mutlak yang tidak mungkin memiliki sifat kesatuan dan terbagi bagi.”

***

Aku tahu, saat itu dia kecewa padaku, karena aku tahu dalam hati kecilnya dia berharap agar aku tidak mampu menjawab pertanyaannya kemarin. Aku juga tak peduli, meski sahabatku itu tidak mau menerima penjelasanku. Toh, ketika aku bertanya kepadanya tentang ayat
ayat Al-Kitab yang membicarakan konsep ketuhanan, ia juga memilih bungkam seribu bahasa,
dan berlalu tanpa kata.

Duhai…
Aku tahu, aku masih pemula. Aku pun tak keberatan, jika orang orang mengatakan aku bodoh, karena memang kenyataannya demikian. Namun dalam kebodohanku, aku bersyukur karena masih ada Allah yang masih mau mengajariku bagaimana memainkan peranan logika, ilmu, dan rasa secara bersamaan dalam satu kata.
Yaitu Islam…!!!

***

Bunda Maria adalah satu-satunya Tuhan yang aku cintai sebelum aku mengenal Islam. Terlebih, aku begitu dekat dengan sosok mamaku yang memiliki nama yang sama, Maria. Namun lagi-lagi Film “Ayat-Ayat Cinta” yang kusaksikan beberapa waktu lalu telah membuatku serasa menemukan dunia kedamaian yang baru. Film ini membuatku
tertarik bagaimana cara memuliakan wanita, dan bagaimana menempatkan cinta dengan adil dan benar. Saat aku
mempelajari terjamah kitab
suci Al Qur’an (karena aku belum bisa mengaji) tentang bagaimana Islam melindungi wanita, aku
menemukan sebuah ayat di Surah An-Nisa tentang bagaimana membagi harta warisan dengan seadil-adilnya. Hatiku pun kagum,
seraya berkata:

“Jika ajaran Islam saja selengkap ini, lantas bagaimana rupa Tuhan
sesembahan mereka?”

Sejak saat itulah, aku mulai mempelajari terjamah Al-Qur’an agar aku tahu seperti apa sesembahan mereka, umat Islam itu. Tercatat, ada 9 tempat di Al-Qur’an yang aku temukan dan membuat penalaranku betul-betul
bekerja tentang arti ketuhanan.

Bersambung—

.