Abu Dzar Al Ghifari ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap tulang dan persendian badan dari kamu ada
sedekahnya; setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap amar ma’ruf adalah sedekah, dan setiap nahi munkar adalah sedekah. Maka
yang dapat mencukupi hal itu adalah dua rakaat yang dilakukannya dari sholat dhuhaa.”

Abu Hurairah ra berkata, “Kekasihku, Muhammad SAW berwasiat kepadaku agar melakukan tiga hal: berpuasa tiga hari pada setiap bulan (Hijriah, yaitu puasa putih atau Baidh, tanggal 13, 14, 15), dua rakaat sholat dhuhaa, dan agar aku melakukan sholat witir dulu sebelum tidur.” (HR. Bukhari Muslim)

KEUTAMAAN SHOLAT DHUHAA DARI SEGI WAKTU

Waktu shalat dhuha terhitung panjang, mulai dari sesudah waktu haram hingga sesudah waktu haram. Maksudnya ialah
waktu haram yang pertama adalah saat terbitnya matahari, sedangkan waktu haram yang
kedua ialah saat matahari tepat
di tengah hari, dan garis peredarannya.

Kenapa diharamkan? Agar tidak seperti menyembah matahari. Kita diajarkan menjadi orang yang berkepribadian, tidak asal mengikuti. Cukup Rasulullah sebagai panutan. Tak terkecuali dianut mengenai waktu keutamaan sholat dhuhaa.

Sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, ia berhak memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang meloakukannya.” (HR. Muslim).

Begitu dahsyatnya keutamaan shalat dhuha. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada satu orang kerenamu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. Muslim).

Ini merupakan hadits keutamaan shalat dhuha. Di masa Rasul, unta merah begitu prestisius. Pada masa sekarang bisa disamakan
seperti mobil mewah. Untuk mendapat pahala sedemikian dahsyat dari keutamaan sholat
dhuha, minimal kepribadian kita
harus islami terlebih dahulu. Mari
mengintrospeksi . Insyaallah jika ikhlas kita kedepannya akan beroleh manfaat dari keutamaan shalat dhuha.

Tentu ketika waktu yang disediakan longgar, ada waktu utamanya. Waktu itu, dalam
redaksional hadits, sering digambarkan sebagai anak unta bangkit dari tempat diamnya karena mulai kepanasan atau kehausan. Saat terikmatahari mulai menyengat, pasir mulai panas, sehingga panasnya dirasakan oleh kaki-kaki anak unta. Ini menunjukkan waktu
utama shalat dhuha akan diakhirkan. Jika merunut kondisi di Indonesia berarti sekitar
pukul 10-11, atau lebih dari itu asal berhati-hati terhadap waktu haram yang mulai muncul.

Zain bin Arqam ra melihat orang-orang shalat dhuha, maka ia berkata: Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat dhuha di saat ini lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah bersabda, “Shalat dhuha itu shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai
panas tempat berbaringnya.” (HR. Muslim).

Wallahu a’lam

.