Bismillaah…
Kita hidup di penghujung jaman. Saat segala kesempurnaan telah diberikan habis pada orang-orang pilihan. Kesempurnaan kecantikan telah diberikan habis pada Sarah
(istri nabi Ibrahim). Kesempurnaan
ketampanan telah diberikan habis pada nabi Yusuf. Kesempurnaan akhlaq telah diberikan habis pada nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi
wasallam. Kesempurnaan iman telah diberikan habis pada nabi Ibrahim.

Kesempurnaan kelembutan hati telah diberikan habis pada Aisyah. Kesempurnaan kecerdasan telah diberikan kepada nabi Musa. Kesempurnaan kekayaan telah diberikan habis pada nabi Sulaiman. Segala kesempurnaan tersebut telah direguk habis oleh manusia-manusia pilihan Allah.

Maka dari itu, tak mungkin ada seorang gadis yang menolak pria semisal nabi Yusuf, yang selain pria paling tampan di dunia juga
memiliki kekuatan iman yang luar biasa. Dan tak mungkin pula ada seorang pria akan menyia-nyiakan gadis semisal Aisyah yang selain diberikan wajah yang cantik, umur yang muda, memiliki kelembutan hati yang luar biasa, juga ketawakkalan yang tak perlu
diragukan lagi.

Sayangnya, segala kesempurnaan itu telah habis terbagi pada mereka. Itulah yang menjadikan masalah cinta kita selalu klasik.
Pilihan-pilihannya menjadi rumit. Ada pria tampan, tapi sayang agamanya lemah. Tapi ada pula pria sholeh, tapi wajahnya gagal
untuk disebut tampan. Begitu pula dengan perempuan. Ada perempuan cantik, tapi sayang tampilan dan perilakunya tidak islami. Ada pula perempuan yang sholehah, tapi lagi-lagi wajahnya tidak begitu menarik dan gagal dibilang cantik. Ada si kaya, namun sayang miskin iman. Sebaliknya, ada si miskin, tapi taatnya bukan main.

Segala pesona yang kita miliki selalu pincang. Padahal untuk dapat berlari, kita membutuhkan dua kaki untuk melangkah. Inilah persoalan cinta kita. Kita selalu mengharap kesempurnaan pada orang yang ingin kita cintai padahal segala kesempurnaan telah direguk habis oleh manusia-manusia pilihan. Yang tersisa tinggallah cacat dan ketidaksempurnaan yang melekat pada diri kita.

Namun apakah karena ketidaksempurnaan itu lantas jiwa ini tak pantas mencintai dan dicintai?

Sejenak mari kita mengunjungi rembulan di malam hari. Lebih dekat.. Dan lebih dekat lagi… Hingga kita dapat menginjakkan kaki padanya. Banyak lubang dimana-mana. Permukaan yang sama sekali tidak mulus dan rata. Sungguh pemandangan yang tak pernah membuat mata betah lekat-lekat memandangnya. Inilah
ketidaksempurnaan rembulan. Namun saat kita kembali menginjakkan kaki di bumi. Betapa disini, kita dapat melihat cahaya putih menawan sang rembulan. Indah menyemburat. Menghiasi langit saat kelam.

Temuilah Tuhanmu. Kuatkan azzammu. Pinanglah ketidaksempurnaan rembulan.
Jadikan pesona jiwa menjadi pilihan. Terimalah ketidaksempurnaan lahirnya.
Niscaya celupan Allah akan menjadikan indah menawan pada kanvas ketidaksempurnaan
itu, dengan kuas cinta yang diusung karena mengharap pertemuan dengan-Nya.

Pesona jiwa akan selalu memberikan getaran rindu bagi si pecinta. Dengan getaran rindu
inilah, cahaya cinta bisa terawat tanpa berbatas waktu dan usia. Namun jika pilihannya adalah pesona lahiriah (kecantikan,
ketampanan, kekayaan) maka tunggulah hingga pesona tersebut sirna, kecantikan itu mengkerut, ketampanan itu memudar, kekayaan itu habis terkuras. Dan saat itulah, cinta yang didasarkan pada pesona yang akan sirna, maka cinta pasti habis tak bersisa.

Selamat meminang ketidaksempurnaan rembulan
Atau hanya bermimpi membayangkan indahnya rembulan.

Source: (Insan Sains)

.