Saya ingatkan sebuah nasehat Salaf : “Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut
ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika kau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka” (Umar bin Abdul Aziz).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh tuduhannya itu akan kembali
terarah kepada salah seorang di antara mereka berdua.”

Dalam sebagian riwayat disebutkan,
“Apabila sebagaimana apa yang
dia katakan -maka dia tidak bersalah- akan tetapi apabila tidak sebagaimana yang dia
tuduh maka tuduhan itu justru kembali kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [2/126-127] dan Shahih Bukhari, hal. 1254)

Maksud dari ‘tuduhan itu justru kembali kepadanya’ adalah sebagaimana yang diterangkan oleh al-’Aini rahimahullah, yaitu,
“Apa yang diucapkannya justru terarah kepada dirinya sendiri, karena orang yang dia kafirkan ternyata benar imannya (tidak
kafir).” Sehingga maknanya adalah kalau tuduhannya itu tidak terbukti kebenarannya maka sesungguhnya dia telah mengkafirkan dirinya sendiri. (lihat ‘Umdat al-Qari [22/245] pdf)

Syaikh Dr. Nashir bin Abdul Karim al-’Aql berkata, “Takfir atau penjatuhan vonis kafir adalah perkara yang diatur dalam hukum
syari’at acuannya adalah al-Kitab dan as-Sunnah. Maka tidak boleh mengkafirkan seorang muslim karena ucapan atau perbuatannya selama dalil syari’at tidak menunjukkan atas kekafirannya. Dengan disebutkannya istilah hukum kafir -secara umum- atas suatu ucapan atau perbuatan itu
tidak secara otomatis menunjukkan jatuhnya vonis kafir tersebut -secara khusus- kepada
orang tertentu -yaitu pelakunya- kecuali apabila syarat-syarat -pengkafiran- itu sudah terpenuhi dan penghalang-penghalangnya
tersingkirkan. Takfir merupakan hukum yang sangat berbahaya resikonya, oleh sebab itu wajib meneliti segalanya atau tatsabbut dan berhati-hati di dalam menjatuhkan vonis kafir ini kepada seorang muslim.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 19 pdf).

.