“Tentu saja, Pak…! Islam itu benar, karena ajaran agama itu telah diwahyukan sejak ribuan tahun yang lalu. Sedangkan para ilmuwan menemukan jawaban atas kasus kasus ilmiah yang mereka hadapi baru-baru ini. Padahal apa apa yang mereka cari sudah ada dalam Al Qur’an itu sendiri. Itu berarti peradaban yang dibawa oleh Islam itu sudah sangat tinggi pada zaman dahulu.
Kebenarannya pun tidak dapat dipatahkan oleh riset secanggih apapun.

Contohnya, ketika terjadi kasus bayi laki-laki dan bayi perempuan yang tertukar di Amerika beberapa waktu yang lalu. Ketika terjadi kekalutan dan keresahan yang membuat para dokter dan perawat saling mencari selamat
sendiri, lalu datanglah seorang dokter muslim yang mengatakan akan menemukan jawabannya dengan mengacu pada Al Qur’an.

Dimana Allah berfirman, “ Dan bagi laki-laki itu dua kali bagian perempuan…”

Bukankah benar, jika dibuat kesimpulan bahwa jumlah ASI yang dimiliki oleh ibu yang
melahirkan bayi laki-laki dua kali lebih banyak daripada jumlah ASI yang dimiliki oleh ibu bayi perempuan?” Kataku.

Islam itu juga agama yang sangaaaat simpel alias mudah.
Artinya ia tidak membiarkan
siapapun yang memeluknya itu menjadi sengsara karenanya. Lihat saja, ketika orang tidak bisa shalat berdiri, maka boleh dengan duduk. Tidak bisa duduk, boleh dengan berbaring. Tak bisa berbaring, boleh dengan telentang, boleh dengan Isyarat dan seterusnya. Berhalangan puasa karena sakit, boleh diganti di hari lain. Tak bisa berhaji
karena tak mampu, bisa diganti dengan berbakti pada kedua orang tua. Mau apa-apa, asal didahului dengan berdoa, maka
segalanya menjadi berkah. Sampai -sampai nih, masuk toilet pakai kaki kiri, atau masuk masjid dengan kaki kanan saja dapat pahala.

“Bukankah Islam itu mudah?” Kataku.
“Subhanallaah, antum benar, adik Alfian.
Betapa segala masalah yang kita hadapi ini, semua jawabannya ada pada Islam.” Sahut Fathan, mahasiswa asal Malaysia.

“Silakan dilanjutkan…! ” Kata Pak Haga. Kami makin bersemangat hari itu.

“Islam itu juga logis. Bisa menjelaskan masalah apapun dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti. Islam juga satu-satunya agama yang diakui.” Kataku.

“Diakui bagaimana maksud antum? Bukankah agama-agama lainnya juga diakui oleh negara
negara di dunia?”

“Benar sekali. Tetapi pengakuan itu tidak seistimewa Islam. Bayangkan :

• Agama Islam itu adalah agama yang diridhai oleh Allah. Dan nama Islam itu diberikan langsung oleh Allah (QS Ali Imran:
19 dan 85, dan Al Maaidah: 3)

• Al Qur’an telah diakui kebenarannya, dan ditetapkan sebagai dasar acuan utama dalam
beberapa penelitian yang dilakukan di negara non muslim sekalipun. Hanya saja, mereka
masih malu untuk mengakuinya.”

***

Diskusi itu sudah lama sekali, tetapi seolah-olah baru kemarin aku menyelesaikannya.

Diskusi itu sangat membekas, dan
meninggalkan kesan indah yang begitu mendalam. Sebuah dialog indah yang membuatku makin bangga dengan atribut Islam di jiwaku.

Ya, aku bangga memeluk Islam, dan aku merasa terhormat sebagai orang Islam.
Karena melalui Islamlah, aku merasa utuh sebagai seorang manusia dengan adanya
pengakuan Allah terhadapku sebagai hamba-Nya. Sebuah pengakuan istimewa sebagaimana pengakuan-Nya terhadap Islam yang telah mendekap jiwaku dengan begitu
hangatnya.

Beberapa pertanyaan teman gerejaku yang sering menggangguku adalah pertanyaan-pertanyaan tentang eksistensi Allah. Beberapa
jawaban yang aku kemukakan sama sekali tidak memuaskannya. Mereka tidak atau belum mampu menerima konsep-konsep keimanan pada hal-hal yang ghaib. Aku awalnya sedikit kesal dan gerah, mengapa mereka tidak bisa menerima keterangan-keterangan tentang konsep tauhid yang aku sampaikan.

Hingga suatu ketika, kutemukan jawaban ataspertanyaan itu di Surah Al Anbiya: 22.

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah
rusak binasa. Maha Suci Allah yang
mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”.

Surah Al Anbiya’ ayat 22 ini sudah cukup mematahkan konsep dualisme dalam Ketuhanan Majusi (dijelaskan dalam Surah Al An’aam 1-2 ), atau konsep Trinitas yang dijelaskan dalam Surah An Nisaa: 171–172 ).

Bersambung—

.