***

JADI…

• Jika keindahan adalah kesepakatan, maka itu berarti nilai keindahan hanya dapat dirasakan oleh manusia-manusia yang mengerti keindahan. Mereka itulah manusia yang mendapatkan rahmat.

• Jika seseorang mengakui dan menyepakati bahwa Islam itu indah, maka sudah pasti akan lahir ketundukan hati pada syariat-syariat yang ditetapkan oleh-Nya. Karenanya cara sederhana menentukan titik pembeda antara seorang pemeluk
Islam biasa dengan pemeluk Islam sejati dapat dilihat dari ketundukan hati mereka pada syariat Islam itu sendiri.

Aku masih ingat ketika pada suatu hari, aku mengikuti kelas agama di kampus. Di sana, semua mahasiswa–mahasiswi dipecah
berdasarkan agama dan kepercayaannya masing-masing. Aku saat itu bergabung dengan 19 orang temanku yang juga muslim.

Dalam kelas itu, Pak Hiroyuki Haga, dosen sekaligus guru spiritualku menanyakan sesuatu kepada kami, “Apa agama kalian?”

Karena kami semua adalah Islam, maka kami pun dengan serempak
menjawab, “Kami adalah seorang muslim, Pak..!”

“Alhamdulillaah , sekarang saya akan menanyakan sesuatu hal
pada kalian.” Katanya.

Ia lalu mendatangi tempat duduk kami satu persatu sembari
menanyakan pertanyaan yang sama.
“Mengapa kalian bisa beragama Islam? Apakah kalian benar benar
menganggap Islam itu adalah pilihan hati?
Apakah kalian memeluknya tanpa kalian menyadari bahwa kalian itu adalah seorang muslim, sehingga
Islam hanya sebagai lambang identitas saja?
Ataukah kalian memeluk Islam, karena kedua orang tua kalian adalah Islam?” Tanyanya.

Suasana hening. Kami terdiam. Seolah kami merasa bahwa semua
perkataannya itu begitu mengena.
“Kamu, kenalkan dirimu dan jawab pertanyaanku… !” Tanya dosenku.

“Nama saya Fauzi. Saya dari Lahat, Sumatera Selatan, Indonesia. Saya
beragama Islam, karena kedua orang tua saya juga beragama
Islam. Karenanya proses pengakuan saya terhadap keindahan Islam saya dapati dari
proses pembelajaran saya.”

“Seandainya kedua orang tuamu bukanlah Islam, apakah kamu akan berusaha mencari sisi kebenaran sejati dalam hidupmu?” Tanya Pak Haga.

“Bisa iya, bisa pula tidak.” Jawab Fauzi, teman saya itu.

“Islam itu adalah rahmat. Dan rahmat dapat hadir atau hinggap pada siapapun. Andai saya adalah pemeluk agama lain yang sangat
taat, tentu saya akan tetap
mendedikasikan seluruh jiwa raga saya untuk mengabdi kepada Sang Pencipta. Karena saya sadar,
bahwa kepatuhan seorang
hamba pada Tuhannya itu mutlak
diperlukan. Saya yakin, sepanjang saya tidak menyakiti orang lain,
dan sepanjang saya masih dapat menjalankan akal dan hati saya dengan baik, maka peluang terbukanya sebuah hidayah itu masih sangat besar.”

Pak Hiroyuki Haga tersenyum. Ia lalu melangkah ke arah bangkuku. Dan bertanya pada teman yang berada di sampingku.
“Giliranmu…!” Katanya.

Teman saya yang duduk di sebelah saya pun berdiri.
“Nama saya Anthony. Saya dari Jurong barat, Singapura. Saya adalah seorang muallaf. Karenanya, saya memeluk Islam karena saya tahu bahwa Islam adalah agama yang diridhai oleh Sang Pencipta.”

“Darimana kamu tahu dan bisa mengatakan bahwa Islam itu agama yang diridhoi Tuhanmu?” Tanya Pak Haga lagi.

“Dari firman-Nya.” Jawab Anthony.
“Apakah kamu yakin?”
“Ya…!”
“Jelaskan, mengapa kau bisa seyakin itu…!” Kejar Pak Haga.

Anthony diam sejenak. Kulihat ia menghela nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Tuhan, atau Allah itu adalah sesembahan saya. Ia berfirman dalam kumpulan kalam-Nya yang kita kenal sebagai Al Qur’an. DIA tidak mungkin bohong dengan
firman-Nya sendiri, karena Tuhan itu hanya memiliki sifat-sifat wajib yang baik-baik saja. Tidak ada Tuhan yang suka berbohong, sehingga tidak ada alasan pula bagi saya untuk menolak beriman pada Yang Maha Benar.”

“Subhanallaah.. ..” Ucap kami serempak.

Beberapa di antara kami tampak tersenyum dengan jawaban Anthony.

“Sekarang giliranmu…!” Kata Pak Haga padaku.
Aku tersenyum dan mengangguk
mantap.
“Nama saya Daniel. Saya berasal dari Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Saya juga seorang muallaf. Saya beragama Islam karena Islam itu benar, indah,
simpel, logis, dan diakui.” Jawab saya.

Grrrr…..!!!!

Suasana kelas mendadak menjadi sedikit gaduh karena jawaban saya.
Tak terkecuali Pak Haga yang tersenyum-senyum setelah mendengar jawaban saya.

“Oh ya..? Bagaimana bisa demikian?” Kata Pak Haga.

Bersambung—

.