***

Aku tersenyum…
Aku menitikkan air mataku…
Ternyata, konsep hidayah itu begitu simpel, sederhana…
Ketika hati sadar akan kesalahan…
Ketika hati terbuka akan sebuah kebenaran…
Dan ketika jiwa mulai tersentuh, dan tunduk pada aturan-Nya…
Maka saat itulah hidayah keislaman itu hadir mendekap jiwa.

Karenanya,,,
Perbedaan orang “ber- Tuhan” dan yang “tidak ber-Tuhan” terletak pada hadirnya hidayah dalam jiwa.
Perbedaan orang “Islam sejati” dengan orang “Islam biasa” terletak pada keterbukaan dan
ketundukan hatinya pada ajaran agama Islam itu sendiri.

Karenanya,,,
Hatiku pun mengatakan jika Islam itu adalah ketundukan hati dan penyerahan diri sepenuh hati kepada aturan Sang Ilahi, Allah SWT, maka sudah tentu bahwa tugasku berikutnya adalah mencari tahu bagaimana caranya
untuk tunduk dengan benar…

Ah…
Jika perasaanku sudah sedemikian bergolak begini, aku tidak bisa
membayangkan lagi bagaimana jika aku benar-benar menjadi muslim nanti. Tentu getaran yang
kurasakan akan lebih hebat lagi saat membaca dan meresapi kalam-Nya yang mulia.
Jika aku tunduk kepada-Mu, maka tentulah aku mengakui akan adanya kasih sayang-Mu…
Jika aku mengakui kasih sayang-Mu, maka tentunya aku telah mengakui betapa indahnya Engkau yang telah menciptakanku
seindah ini…

**

“Desir pasir di padang tandus”
“Segersang pemikiran hati”
“Terkisah ku diantara cinta yang rumit”
“Bila keyakinanku datang”
“Kasih bukan sekedar cinta”
“Pengorbanan cinta yang agung”
“Kupertaruhkan”
“Maafkan bilaku tak sempurna…”
“Cinta ini tak mungkin kucegah…”
“Ayat ayat cinta bercerita…”
“Cintaku pada-Mu…”
“Bila bahagia mulai menyentuh…”
“Seandaiku bisa hidup lebih
lama.”
“Namun harus kutinggalkan cinta…”
“Ketika kubersujud…”

(Ayat Ayat Cinta, By Rossa. Composed by Melly Goeslaw)

Bagi kami lagu itu adalah lagu yang paling indah di dunia. Karena dari sebuah lagu, kami
tertarik pada filmnya dengan judul yang sama. Lalu dari film itu kami tertarik dengan hukum pernikahan lebih dari satu atau
poligami. Dari poligami kami tertarik dengan cara Islam memuliakan wanita. Dari poligami, kami juga belajar bagaimana metode pembagian harta warisan yang begitu transparan.

Lantas ada alasan apalagi bagi kami untuk menolak keindahan Islam?

Kami sama sekali tak peduli ada penyanyi lain yang levelnya di atas Rossa, atau ada pencipta lagu lain yang levelnya di atas Melly. Yang jelas, lagu itu tiada duanya dan kami sekeluarga sering sekali
menyanyikannya bersama.

Wahai diaryku…
Mengapa mereka berdua bisa mendapatkan loyalitasku sedemikian rupa?
Mengapa mereka berdua bisa mendapatkan pengakuanku sedemikian fanatisnya?
Semua karena satu hal, duhai diary…
Semua karena “aku mengakui karya mereka sebagai sebuah karya yang indah.”

Diaryku…
Setiap musisi tentu memiliki suatu karyanya masing-masing. Ia tentu juga akan mengatakan bahwa karya-karya yang dihasilkannya adalah yang terbaik. Karena sebuah karya sejati itu lahir karena dedikasi yang penuh dari musisi yang bersagkutan.
Dengan mengerahkan segenap
kemampuannya, dan mengorbankan semua waktu dan cintanya, ia berusaha menciptakan sebuah karya yang dapat dinikmati semua orang, khususnya para penggemarnya yang selalu setia menunggu album demi albumnya.

Berbicara tentang bagus atau tidaknya suatu karya, sudah pasti ditentukan oleh nilai-nilai keindahan yang dimiliki oleh karya itu. Dan bicara tentang keindahan, ada dua sudut pandang yang berbeda. Yaitu sudut pandang dari Si Pencipta
Karya, dan sudut pandang dari Si Penikmat Karya. Ketika seorang penikmat musik atau suatu karya
tersentuh hatinya, lalu ia tergerak untuk membeli suatu karya, maka
pada saat yang bersamaan telah terjadi sebuah pengakuan Si Penikmat Karya pada nilai keindahan karya yang dihasilkan oleh Sang Musisi.

**

KESIMPULANNYA:

Keindahan itu adalah sebuah proses pengakuan hati, yang melahirkan sebuah kesepakatan antara Sang Pencipta Nilai Keindahan dengan Sang Penikmat Keindahan itu sendiri.

Demikian juga dengan Islam. Allah selaku Sang Pemilik Keindahan telah menanamkan nilai keindahan pada setiap rahmat yang dibentangkan’Nya dengan seluas luasnya. Dan untuk mendapatkan rahmat tersebut, ada aturan-aturan yang dibuat’Nya bagi manusia selaku penikmat keindahan ciptaan’Nya, agar kehidupan manusia menjadi indah dan penuh rahmat. Aturan
itulah yang disebut ISLAM…!

Sebagaimana musisi di atas, ketika seorang manusia tersentuh, lalu hatinya tergerak untuk tunduk dan menyerahkan diri pada aturan-aturan indah tersebut, maka pada saat itulah telah terjadi pengakuan hati manusia pada keindahan aturan
yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta.

Bersambung—

.