Bismillah…

Ketika aku belum mengenal Islam, seseorang berkata kepadaku, “Suatu ketika, engkau akan mengalami sebuah peristiwa besar yang akan mengubah diri dan hidupmu. Engkau akan mendapatkan hidayah akan sebuah kebenaran sejati, yaitu Islam…”

Sejak saat itu, hatiku pun bertanya-tanya, “Seperti apakah hidayah itu?”

Aku sempat mencari cari tahu petunjuk macam apa kiranya yang akan aku temui, hingga aku bisa berpindah keyakinan. Yang
membuatku berpaling dari gereja menuju masjid.

Suatu hari, aku diajak mama mengunjungi sahabatnya yang sedang sakit. Di sana, aku menyaksikan sebuah adegan yang sangat mengharukan. Sahabat mama itu tiba-tiba saja bangkit dari tempat tidurnya dan bersujud pada kaki seorang wanita.

“Ibuuu…. Maafkan aku. Aku telah
mendurhakaimu. Aku telah menyakitimu”. Demikian kata sahabat mama.

Ketika pulang, aku bertanya kepada mama, dan mama pun mengatakan bahwa penyakit sahabatnya itu telah hilang karena mendapatkan maaf dari
ibunya. Dari situlah aku menyimpulkan bahwa maaf juga bisa menjadi sebuah obat!

Pada hari yang lain, aku secara tak sengaja membuka beranda facebookku. Hatiku tersentuh pada sebuah artikel yang dimuat
pada sebuah fanspage Islam. Tetapi, ternyata tidak semua orang tersentuh hatinya sepertiku.

Di sana kudapati berbagai macam
komentar yang berbeda. Ada yang menyebut dan memuji nama Rabb-nya, ada yang berkomentar biasa saja, dan ada pula yang
menghina tulisan indah itu. Hatiku lalu berkata, sebuah tulisan juga bisa menjadi sebuah obat!

Perlahan, pemikiranku tentang hidayah pun mulai bekerja. Hatiku berkata, ketika hati mulai tersentuh dan terbuka akan sebuah kebenaran, maka pada saat itulah hidayah itu datang. Buktinya, sahabat mama akhirnya
mau meminta maaf pada ibunya, karena hatinya terbuka pada sakit yang dideritanya.

Ia menyadari bahwa kedurhakaan telah menyakiti hatinya, sehingga kata maaf dapat menjadi obat yang manjur baginya. Aku menyimpulkan bahwa hidayah akan kebenaran adalah sebuah obat!

Tulisan tulisan di fanspage itu perlahan-lahan juga mengingatkanku pada rasul-rasul
terdahulu dalam menyampaikan risalahnya.

Ada yang menerima dengan lapang hati, dan ada pula yang membangkang. Sama halnya
dengan tulisan yang kulihat kemarin, ada yang tersentuh namun ada pula yang menghina. Dari sini, aku pun menyimpulkan
bahwa hidayah adalah sebuah proses atau peristiwa yang melahirkan “ketundukan,,!” .

Hatiku bertanya lagi, “Jika kemarin aku tersentuh pada sebuah keindahan artikel dari
sebuah fanspage Islam, maka apakah aku telah mendapatkan sebuah hidayah?”

“Apakah aku sekarang telah menjadi seorang muslim?”

“Belum…!” Begitu hatiku menjawab.

Qur’an Surah Ali Imran ayat 102 yang kubaca pada postingan itu, barangkali adalah surah yang paling bersejarah kedua dalam hidupku. Karena surat itulah yang membukakan pintu gerbang keislamanku.

Dari firman Allah SWT: “Hai orang orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Dan janganlah kamu mati kecuali kamu berada dalam keadaan Islam (berserah diri
kepada Allah SWT)”

***

Ayat itu memberikan tiga point pertanyaan bagiku.

• Bagaimana cara bertaqwa dengan benar.
• Bagaimana menjadi orang yang beriman, agar dapat bertaqwa.
• Bagaimana cara menjadi orang Islam, agar bisa menjadi orang yang beriman.

Hatiku lantas mengatakan, jika untuk bisa bertakwa kita harus melewati proses yang bernama beriman. Dan untuk menjadi
beriman kita harus melewati sebuah tahapan atau proses yang bernama bermuslim. Itu berarti untuk menjadi orang yang taqwa,
harus menjadi orang Islam dahulu.

Ketika aku membaca sebuah buku yang isinya mengatakan bahwa Islam adalah selamat, Islam itu adalah proses penyerahan diri, dan Islam adalah ketundukan, hatiku lantas mengatakan pula bahwa untuk menjadi takwa, manusia membutuhkan ketundukan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pancipta atau Tuhan penguasa semesta
alam.

Sehingga, dasar-dasar keselamatan hidup ada pada “Ketundukan hati dan penyerahan diri sepenuh hati kepada Sang Ilahi Rabbi. Yaitu ALLAH SWT bukan kepada yang lain.”

Bersambung—

.