Di kutip dari catatan FB-ku

Ibnu SINA (370/428H), yang di dunia barat dikenal dengan nama AVECINA adalah seorang ILMUWAN
terkemuka di zamannya. Di samping sebagai FILOSOF dan pemikir dia juga seorang DOKTER handal.

Dia meninggalkan 276 buah karya tulis dalam bentuk buku dan hasil penelitian dalam berbagi ilmu dari FILSAFAH, LOGIKA, SASTRA, FALAK, FISIKA, KIMIA, BIOLOGI sampai MUSIK.

Salah satu karya tulisnya yaitu “AL QONUN” yang merupakan MASTER PIECE dalam ilmu kedokteran selama berabad-abad dan telah
diterjemahkan ke dalam berbagai
bahasa. Edisi latinnya telah dicetak 31 kali pada abad ke XV da XVI dan diajarkan di berbagai perguruan tinggi di eropa sampai
akhir abad ke XVIII.

Demikian hebatnya Ibnu SINA, sampai pada suatu hari seorang murid setianya yang telah bertahun-tahun tinggal bersamanya mengajukan sebuah pertanyaan yang mengejutkan”.

“GURU, kebesaran nama anda telah termasyhur ke segala penjuru dunia, mengapa guru tidak menyatakan diri sebagai NABI..?”.

Ibnu SINA diam tidak menjawab dengan sepatah katapun. Sampai pada suatu malam yang dingin menjelang fajar, Ibnu SINA yang
saat itu dalam keadaan kurang sehat membangunkan murid setianya dan memintanya untuk mengambilkan segelas air putih. Dalam keadaan terkantuk-kantuk si murid menjawab,

“Apakah di pagi buta ini guru akan minum air dingin..?
Bukankah itu akan menambah parah sakit guru?”

Ibnu SINA tersenyum mendengar jawaban muridnya, kemudian ia mengajaknya duduk-duduk diruang tamu. Bersamaan dengan itu di mesjid terdengar MUADZ-DZIN mengumandangkan adzan subuh dengan suara yang jernih, merdu dan membangunkun bulu kuduk.

“Anakku, inilah jawaban atas pertanyaanmu beberapa waktu yang lalu.”
“Maksud guru bagaimana..?”. “Kamu mendengar suara adzan itu..?”.
“Iya guru saya mendengar”.
“Nabi kita Rasulullah SAW telah wafat IV abad yang lalu. Tapi nama beliau masih diseru dan ajarannya tetap dipegang teguh, di pagi buta ini umat ISLAM bangkit untuk melawan rasa
kantuk dan hawa dingin yang mencekam menusuk tulang dan dengan hati yang tulus tanpa rasa enggan bergegas ke mesjid melaksanakan ajaran Rosulullah.”

“Anakku itulah Nabi yang sejati..!! Sedangkan aku, apalah artinya diriku ini dibandingkan dengan beliau, sangat jauh sekali tidak ada apa-apanya, muridku yang paling setiapun enggan melaksanakan perintahku untuk
mengambilkan segelas air minum, pada hal aku masih segar bugar dan ada dihadapannya, dan yang paling ironis diapun memberikan nasehat kepadaku tentang kesehatan, pada hal dia tahu bahwa aku ini dokter ahli yang tak ada tandingannya. Maka bagaimana mungkin aku mengaku diri sebagai NABI..??” Jawab Ibnu SINA.

Setelah mendengar penjelasan Ibnu SINA dia sang murib termangu-mangu lantas menunduk dalam sekali merenungi kekhilafannya.

Sumber: EL WARDAH cetakan th 1995.
Suramadu. Oct 23, 2010. 06:46 am
el_Ghibran !

.