Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili dalam situsnya mengharamkan ucapan Selamat Tahun Baru Masehi karena perbuatan tersebut termasuk tasyabbuh (meniru kebiasaan orang kafir) kepada kaum Kristen yg mana mereka saling mengucapkan selamat
ketika awal tahun baru Masehi.

Tasyabbuh dengan mereka diharamkan oleh Rasulullah SAW. “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk
bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti umatnya tentang bahaya tasyabbuh terhadap orang Persia, Romawi, Yahudi dan Kristen.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti
jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu
masuk ke lubang biawak, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang
diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri).

Banyak yang beranggapan bahwa pemberian ucapan tahun baru dan perayaan tahun baru adalah urusan duniawi yang tidak ada
kaitannya dengan akidah. Padahal secara historis, perayaan tahun baru Masehi tidak bisa dipisahkan dari tradisi dan ritual penyembahan dewa Janus dalam agama paganisme (agama kafir penyembah berhala):

Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru
semenjak abad ke-46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari
diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah, sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan
sebuahnyalagi menghadap ke (masa) lalu).

Dalam mitologi Romawi, Dewa Janus adalah sesembahan kaum Pagan Romawi. Bulan Januari (bulannya dewa Janus) ditetapkan
setelah Desember karena Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari di mana
kaum pagan penyembah Matahari
merayakanritual mereka saat musim dingin.

Pertengahan Winter Soltice jatuh pada tanggal 25 Desember, dan inilah salah satu dari banyaknya pengaruh Pagan pada tradisi
Kristen. Kaum Pagan pandai menyusupkan budaya mereka ke dalam budaya agama lain. Ini
terbukti dengan tradisi mereka bertahun baru yang sudah populer diikuti di berbagaibelahan dunia. Misalnya, tradisi kaum Pagan merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, bernyanyi bersama, memukul lonceng dan meniup terompet. Ke
dalam agama Kristen, tradisi pagan ini diadopsi dengan menjadikan hari Dewa Janus tanggal 1 Januari menjadi Tahun Baru Masehi, sehingga muncullah pemisahan masa sebelum Yesus lahir pun (Sebelum Masehi-SM)
dan sesudah Yesus lahir (Tahun Masehi-M).

Di Persia yang beragama Majusi (penyembah api), tanggal 1 Januari juga dijadikan sebagai
hari raya yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus. Dalam perayaan itu, mereka menyalakan api dan mengagungkannya, kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, bercampur baur
antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan minuman
keras (khamr). Mereka berteriak-teria k dan menari-nari sepanjang malam. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.

Shahabat Abdullah bin ’Amr RA
memperingatkan dalam Sunan Al-Baihaqi IX/234: ”Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan
karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan
demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.”

[A. Ahmad Hizbullah MAG/SI]
Sumber: voa-islam.com

Lantas haruskah kita latah mengikuti kebiasaan mereka, memperingati perayaan yang biasa mereka lakukan, yang jelas-jelas tidak sesuai dengan agama kita. Rela terjaga hingga larut malam hanya untuk membakar
kembang api, make a wish, hura-hura dsb.

.