Dua orang anak santri sedang duduk mengobrol di teras depan kamar tidurnya. Sudah menjadi kebiasaan anak pondokan kalau lagi tanggal tua menunggu-nunggu kiriman.

Adi: “Ri, kenapa kamu dari tadi cengar-cengir terus? Mentang-mentang baru saja dapat kiriman wesel post?

Ari: “Aku diancam oleh abah dan ummi”.

Adi: “Diancam kok malah cengar-cengir? Mengapa emang diancam?”

Ari: “Kamu kan tahu caraku menulis surat kalau lagi kehabisan duit. Uang yang sepuluh
ribuan itu aku poto copy, terus dibawahnya itu aku tulisi pesan “Tolong kirimi seperti ini yang asli sepuluh lembar”.

Ari: “Terussss….”
Adi: “Kemarin datang duitnya seratus ribu sesuai pesanan.

Ari: “Lah, bukannya itu yang kamu harapkan”.

Adi: “Iya sih, tapi ada surat balasannya. Di kertas itu ada gambar kepalan tangan, terus di
bawahnya ada tulisan “Tunggu saja yang asli..!”

Ari: “Qiqiqiqi, yaaa mudah-mudahan yang asli segera datang”.

Adi: “Sialan kamu…..”

.