Hari ini, ada yang lain dengan kepulangan anakku dari sekolahnya. Biasanya dia hanya
menghampiriku, mencium tanganku, dan kemudian berlalu ke kamarnya.

Tapi kali ini dia memelukku begitu lama yang membuatku sedikit cemas ada apa sebenarnya. Tak sepatah kata keluar dari bibirku, kubiarkan dia menikmati momen ini seperti juga aku yang menikmati dan terharu karenanya.

Sekitar 15 menit kami berdua menikmati momen indah ini, dan akhirnya kuberanikan diri untuk menanyakan apa yang terjadi. Dia
kemudian mengeluarkan handphone dari tas sekolahnya sambil menunjukkan foto sebuah
ibu yang telah tua renta.

“Aku tadi makan siang bersama ibu ini, bu.
Namanya ibu Wati, dia seorang pemulung.”
“Dia bercerita tentang anak-anaknya yang kini tak lagi mau mengurusnya, dan dia harus
berjuang sendiri mencari sesuap nasi untuk bisa bertahan dalam hidup ini.”

Tak terasa air mata mulai membasahi pipi anakku. Sesuatu
yang sangat jarang aku lihat belakangan ini. Dan aku dengan penuh kasih menghapusnya.
Setelah selesai bercerita, aku tak diberi kesempatan tuk bicara.

Anakku kembali memelukku sambil berkata “Ibu, aku berjanji
akan membahagiakanmu . Aku tak akan pernah meninggalkanmu, atau menitipkanmu ke panti jompo seperti yang sebagian orang
lain lakukan. Aku ingin ibu selalu bersamaku, berada di sisiku selamanya!“

Sesuatu yang aneh mulai merasuk tubuhku, sesuatu yang membuat seluruh tubuhku bergetar, air mataku mulai mengalir tanpa bisa kutahan.

Dengan suara serak penuh isak, aku berkata
“Ibu bangga memiliki anak sepertimu, sayang“

.