(Dialog ini bersifat fiksi. Sekedar untuk pelajaran. N = Nashrani , M = Muslim)

N : Kawan, bentar lagi aku mau ngerayain Natal nih. Natal kali ini sangat berkesan bagiku. Kamu ga ingin ngucapin “Merry Chistmast” buatku?

M : Mohon maaf ya, aku tidak akan ngucapin Selamat Natal di hari raya agamamu, karena hal itu terlarang dalam agamaku.

N : Terlarang? Masa’ ucapan gitu aja terlarang? Apa susahnya sih?

M : Memang terlihat gampang dan sepele. Tapi besar urusannya dalam agama kami, besar pula tanggung jawabnya di hadapan
Allah di akhirat nanti. Dengan mengucapkan selamat Natal, berarti seorang muslim secara
langsung atau tidak langsung telah ridho dan dengan keyakinan agama Nasrani yang tidak benar,
yakni keyakinan bahwa Allah memiliki anak, dan keyakinan bahwa Nabi ‘Isa AS sebagai Tuhan yang disembah, bahkan seolah mengalahkan ketuhanan Allah SWT. Padahal, keyakinan semacam ini, di dalam agama
Islam, disebut keyakinan yg
kufur kepada Allah. Kami meyakini Allah tidak ber-Anak dan tidak diper-Anakkan. Tidak ada Tuhan yg patut disembah secara hak
kecuali Allah semata. Nabi ‘Isa, yg kalian sebut Yesus Kristus itu, beliau bukan tuhan. Beliau hanyalah satu Nabi dan Rasul dari
Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah. Jadi, mohon maaf, aku tidak akan mengucapkan selamat Natal bagimu.

N : Kalian umat muslim tidak punya toleransi ya?! Pas lebaran Idul Fithri kemarin, aku ngucapin selamat buatmu, kan? Juga buat
teman-teman yang lain. Tapi giliran Natal, tak ada yang mau ngucapin selamat Natal. Tidak punya toleransi!

M : Tunggu dulu. Toleransi seperti apa yang kamu maksud? Apakah toleransi itu hanya sebatas ucapan Natal? Kalian kaum Nasrani bisa hidup dengan aman, tentram, damai di negeri ini yang mayoritas kaum muslimin; kalian kelompok minoritas hidup di tengah-tengah kami dalam keadaan sentosa tanpa ada gangguan apapun, kalian bebas
beribadah sesuai keyakinan agama kalian, kalian juga bisa nyaman beraktivitas sehari-hari, berbaur dengan orang-orang muslim, tidak cukupkah ini semua sebagai wujud toleransi kami terhadap kalian? Bahkan Nabi
kami, Rasulullah SAW sangat melarang kami dari menyakiti kaum kafir dzimmiy. Beliau bersabda: “Man aadzaa dzimmiyyan faqod aadzaaniy” (Barangsiapa menyakiti seorang
dzimmiy maka dia seolah telah menyakitiku). MasyaAllah, ini loh
ajaran Islam yang penuh toleransi. Tidak ada agama yang menjunjung tinggi toleransi setinggi Islam menjunjungnya. Malah realita yg ada, dimanapun ada muslim yg minoritas, seringnya mereka mendapat gangguan, celaan, intimidasi, dan perlakuan yg tidak baik dari non muslim yg mayoritas. Nah, siapa sekarang yg ga punya toleransi? Adapun soal kamu ngucapin
selamat Idul Fihti kepada kaum muslim, jujur ya, kami tidak membutuhkan ucapan selamat itu. Bahkan, ucapan selamat
Idul Fithri itu sendiri sebenarnya tidak diajarkan dalam agama kami. Apa lagi yg ngucapin non muslim, lebih tidak ada artinya lagi.

N : Kalau memang Islam menjunjung toleransi, kenapa ngucapin selamat Natal saja tidak mau?

M : Sudah aku jelaskan tadi. Karena ucapan selamat Natal diakui atau tidak, mengandung
keridhoan terhadap kekufuran ajaran agama kalian yg meyakini Allah punya anak dan Yesus itu anak Allah, hingga kemudian diangkat ke derajat Tuhan yg disembah. Ini yg tidak bisa kami terima. Karena Islam mengajarkan kami untuk berlepas diri dari segala macam bentuk kekufuran, namun tetap tidak boleh menyakiti para pelaku kekufuran tersebut tanpa alasan yg haq. Kami tetap toleransi. Tapi toleransi tidak boleh menjadi alasan untuk menerjang batas aqidah dan prinsip yg digariskan agama kami.

N : Tapi aku ini teman dekatmu kan? Hargai dong pertemanan kita.

M : Aku selalu menghargai pertemanan kita. Tapi aku lebih menghargai ajaran agamaku.
Jangankan terhadap teman, terhadap keluarga sendiri yg beragama Nasrani pun seorang muslim tidak boleh mengucapkan selamat Natal kepadanya.

N : Memang berat sekali ya ucapan selamat Natal itu bagimu?

M : Bagaimana kalau aku memintamu mengucapkan 2 kalimat SYAHADAH?

N : Haaahhh? Syahadat?! Ga, ga, ga. Itu berat banget buatku. Aku ga bisa.

M : Berat banget, bukan? Nah, seberat itu pulalah lisanku ngucapin selamat Natal buatmu.

N : Hhhh, jadi gimana dong?

M : Yah, kamu sebagai Nashrani, jalani saja apa yg kamu yakini. Aku tidak akan mengganggu. Dan aku sebagai muslim, aku jalani apa yg aku yakini. Kita tidak saling
mengganggu. “Lakum diinukum wa liya diin”.

~ Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Mudah saja, kan?

N : Hmmm, gitu ya. Oke deh. Aku pikir, agamamu bagus juga ya. Aku jadi tertarik mempelajarinya.

M : Alhamdulillah, insyaAllah aku siap membantumu meraih hidayah dan mempelajari Islam lebih dalam. Hadaakallaah.

.