~Suatu hari seorang pekerja proyek naik ke lantai gedung paling tinggi. Saat berada di atas, ia harus menyampaikan sesuatu yang penting pada temannya yang berada dibawah. Sekuat tenaga ia berteriak memanggil-manggil temannya itu, namun yang dipanggil tidak mendengar sedikit pun lantaran suara bising mesin dan kendaraan proyek.

~Tak lama kemudian ia punya ide, untuk menarik perhatian temannya itu dilemparnya
sebuah koin yang jatuh di depan temannya.
Temannya itu pun menghentikan
pekerjaannya, mengambil uang itu lalu melanjutkan kembali pekerjaannya. Tiga kali diulangi, tiga kali pula temannya itu tak
bergeming.

~Merasa jengkel dengan sikap temannya yang tetap cuek setelah mengantongi uang itu, pekerja yang diatas melempar kerikil dan
jatuh tepat diatas batok kepala temannya yang ada di bawah tadi. Sambil meringis lantaran sakit, ia pun mendongakkan kepalanya ke atas. Saat itulah pekerja yang bertengkar di sana baru bisa menyampaikan pesan penting tersebut.

***

~Ilustrasi di atas adalah potret kecil dari kehidupan kita sehari-hari.
Terkadang, Allah harus menjatuhkan “kerikil-kerikil” untuk membuat kita mengadahkan wajah pada-Nya. Padahal tidak sedikit nikmat
dan karunia yang diberikan, namun semua itu tidak cukup membuat kita menengadahkan
wajah pada-Nya, tidak cukup membuat kita bersyukur tapi justru sebaliknya.

~Kita makin lupa terlena dan akhirnya lupa akan keberadaan-Nya.
Ya, semua masalah yang kita hadapi, semua cobaan yang kita temui, semua kejadiaan yang kita alami, semua cerita duka yang
singgah di telinga kita dan semua peristiwa yang mampir ke beranda rumah kita, semua itu hanya batu kecil, hanya kerikil yang Allah jatuhkan biar kita kembali “ingat” pada-Nya.

~So… Kerikil-kerikil itu mestinya bikin kita lebih arif menjalani hidup dan lebih bijak dalam
bersikap serta bertindak. Bukan sebaliknya, membuat kita menjaga jarak dengan sang
Maha.
Lalu, ‘suara bising’ itu adalah fasilitas dunia yang sering kali bikin kita terlena hingga lupa
diri, mengabaikan kebahagian hidup yang lebih abadi. Semua itu adalah godaan, sayangnya kita lebih tertarik dengan godaan atau racun itu ketimbang menghindarinya.

~Kita lebih disibukkan dengan urusan dunia hingga lupa dengan kewajiban mengingat-Nya, Kita lupa bahkan mengabaikan perintah-Nya.
Dan salahkah yang “Punya Kehidupan” menegur kealpaan umat-Nya?
So… Jadilah pekerja yang peka, yang bila berada ditempat sebising apapun tetap bisa
mendengar seruan Yang Maha Kuasa.
Dengan kata lain, jadilah menusia santun yang tetap mengingat kebesaran-Nya, menyadari kekuasaan-Nya tanpa harus
dijatuhi kerikil.
Sebab cuma manusia bodoh yang untuk bisa mendongak ke atas harus ditimpuk terlebih dahulu.
Semoga kita bukan orang-orang yang harus ditimpuk dan semoga kerikil-kerikil itu tidak menyentuh kepala kita. Aamiin.

.