~Alkisah tersebutlah seorang seniman yang sangat mahir dalam berkarya, namun suatu hari ia mengalami kecelakaan dan dokter
harus mengamputasi sebelah tangannya tepat di pergelangannya.

~Hari itu hidupnya sangat kelabu, dia ingin mati saja, karena kehilangan tangannya, suatu pagi ia sudah ingin mengakhiri hidupnya dan sudah berada diatap gedung rumah sakit. pikirannya saat itu ingin bunuh
diri. Dari atas atap ia melihat ada seorang pria cacat juga yang sudah kehilangan kedua tangannya, tapi terlihat seperti sedang menari-nari di dekat sebuah tembok, seniman itu berpikir.

~”Ia saja yang sudah tak punya kedua tangan masih bisa bergembira menari, sedang aku
baru kehilangan satu pergelangan tangan, sudah putus asa, ahh, bodohnya aku.”

~Lalu seniman itu turun dan menghampiri pria yang cacat itu dan segera memeluknya seraya
berucap terimakasih. “Tarianmu
menyadarkanku, aku tahu hidup itu indah, terimakasih.”
“Siapa yang menari?” kata orang cacat itu kebingungan.
“Tadi Anda menggerakan tubuh anda seperti menari?”
“Oh, itu pantat ku gatal karena aku tak bisa menggaruk, maka aku gesek-gesekkan di tembok!” kata orang cacat itu.

~Pemuda itu hanya tersenyum, dan mulai bersemangat kembali menghadapi kehidupannya.
Ha ha ha kehidupan memang seperti itu, kadang jalan pikiran orang lain tidak sama dengan jalan pikiran kita, kita berusaha
mengarahkan tapi kadang jalurnya berbeda.

~Karena itu, sebelum mengarahkan orang lain, arahkan dulu pikiran kita kearah yang benar, agar kita tidak salah membimbing orang lain.

.