Ketika ada orang-orang memuji apa yang kita miliki, maka biasanya kita akan berkata kepada mereka, bahwa semua ini hanyalah titipan dari Yang Kuasa saja.

• Bahwa mobil kita yang Mewah dan Mutakhir adalah titipan-Nya.
• Bahwa rumah kita yang bagus adalah titipan-Nya.
• Bahwa harta kita yang bertumpuk juga adalah titipan-Nya.
• Bahwa putera-puteri kita pun adalah titipan-Nya.

~Tapi mengapa kita tidak pernah bertanya kepada yang menitip pada kita?

• Mengapa Dia menitipkannya pada kita?
• Untuk apa Dia menitipkan semua itu pada kita?
• Kalau semuanya bukan milik kita, apa yang seharusnya kita lakukan untuk milik-Nya ini?
• Mengapa hati kita justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh yang Punya?

~Malahan ketika Allah meminta-Nya kembali, seringkali kita sebut itu sebagai.

• Musibah.
• Ujian.
• Petaka.
• Atau apa saja untuk melukiskan bahwa semua itu adalah “Derita”.

~Seolah-olah semuanya itu adalah hukuman bagi kita. Kita tolak sakit-penyakit, kita tolak kemiskinan, kita tolak penderitaan.

~Ketika kita berdoa, banyak yang minta “titipan” lagi yang sesuai dengan hawa nafsu dan keinginan kita, kita selalu ingin mendapat
lebih banyak.

• Mobil.
• Rumah.
• Harta.
• Popularitas dll.

~Seolah-olah semuanya harus berjalan menurut kehendak kita, seolah kita ingin mengaturnya sendiri barulah kita puas. Jadi bukan menurut Kehendak-Nya!

• Karena kita rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dari diri kita dan berkah-berkah seharusnya selalu mengalir menghampiri kita.
• Betapa egoisnya kita, seolah-olah kita berdoa dan meminta itu kepada mitra dagang dan bukan kepada Gusti Allah SWT yang
Maha Kuasa!
• Malahan selalu minta balasan atas “perlakuan baik kita” dan menolak segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan
kita.

~Padahal sering kali dalam sholat dan doa-doa kita ucapkan, “hidup dan matiku kuserahkan pada-Mu.”

~”Kita seringkali juga meminta untuk diajari agar menjadi seorang yang bijaksana, selalu
bersyukur dalam segala hal, hidup seturut perintahperintah-Nya, tetapi pada kenyataan banyak di antara kita yang tidak benar-benar bisa seperti itu.”

.