Dalam bening tetesan air mata ku
butiran nya menyela pekat.
Ada seulas senyum yang tersimpan dalam samar.
Adalah jiwa ku yang telah lelah berlari.
Adalah jiwa yang telah bersujud dalam mihrab.
Di atas altar nurani terlelap berteman mimpi.

Seharusnya itu juga aku, jasad ini
tersenyum atas semua mimpi.
Tiada kesah atas kisah yang tiada berpihak lagi.
Seharusnya air mata ini adalah.
Suara kebahagiaan atas waktu yang bersamaku.
Karna aku pernah mempunyai mimpi.
Satu alasan kemarin senyum itu menghias.
Di antara getar bibir yang pilu, rindu.

.