Tags

Setiap gerak-gerik dan ucapan manusia serta besitan-besitan yg ada di hati dan pikiran selalu tidak lepas dari pengawasan Allah dan dicatat oleh malaikat Raqib dan ‘Atid, Allah SWT berfirman di dalam kitab suci Al Qur’an: “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”. (QS 89:14).

Karena selalu diawasi, bagaimanakah manusia menjaga lisan itu sesuai dengan fitrahnya?

1. Selalu berkata yang baik.
Selalu berkata yang baik harus menjadi sikap hidup bagi orang yang beriman. Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. (Bukhari dan Muslim).

Menurut Imam Syafi’i apabila seseorang hendak berbicara pikirkanlah sebelumnya, seandainya sudah jelas kemashlahatannya maka ucapkanlah namun apabila ragu
dengan perkataannya itu jangan disampaikan hingga jelas kemashlahatannya.

2. Tidak berdusta.
Para ahli bahasa telah bersepakat bahwa dusta atau bohong ialah menyampaikan informasi (laporan, data, pertanggung jawaban) yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Firman Allah: ”Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu katakan”. (QS. 61:3).

Rasulullah bersabda: Empat perkara apabila ada pada diri
seseorang, maka ia adalah seorang munafik tulen, dan barang siapa yang ada dalam
dirinya salah satunya, maka ia telah memiliki salah satu sifat kemunafikan sampai ia meninggalkannya: Apabila diberi
kepercayaan ia berkhianat, apabila berbicara ia bohong, apabila berjanji ia melanggarnya,
dan apabila berbantahan (bermusuhan ) ia berbuat fasik. (Muttafaqun ‘alaih ).

3. Tidak menggunjing.
Firman Allah yang artinya: “ Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang
lain”.(QS. 49:12).

Sedangkan yang dimaksud dengan menggunjing ialah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah :
“Ghibah ialah engkau menyebut saudaramu tentang apa-apa yang tidak disenanginya”. (H.R Muslim).

Menurut An-Nawawi, bahwa yang dimaksud oleh hadits tersebut diatas ialah menyebut kekurangan dan keburukan seseorang dalam hal dunianya, agamanya, akhlaknya, istri dan
anaknya, suaminya, hartanya, rumah tangganya, pakaiannya, gaya jalannya, pembantu rumah tangganya, baik menyebut dengan lisan maupun dengan bahasa isyarat kedipan mata, tangan dan sebagainya.

4. Tidak Menghina.
Sebagai orang yang beriman kita tidak boleh menghina, mencela dan melaknat seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: “ Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu
kaum memperolok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka yang mengolok-olok,
dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, karena boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok itu) lebih baik dari wanita yang mengolok-olok, dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan
ialah panggilan buruk sesudah iman dan barang siapa tidak bertaubat maka mereka itulah orang-orang yang dzhalim”. (QS. 49:11).

5. Tidak berkata kotor.
Yaitu perkataan yang tidak sopan, tidak pantas didengar dan jorok, hal tersebut bisa mengakibatkan orang yang mendengarnya menjadi tersinggung dan sakit hati. Allah tidak menyukai orang yang berkata-kata kotor. Sabda Rasulullah : “ Sesungguhnya
Allah tidak suka kepada orang yang kotor perkataannya menyebabkan orang lain berkata kotor pula”.

(Lihat : Ibnu Hibban 5177, Mawaridu Al- Dzam’an 1566, Ahmad 6514, Kasyfu Al-Khafa
736, Hadits Hasan).

.