Alkisah, Ibrahim dan istrinya Siti Sarah sudah bekeluarga sekian lama dan usia mereka sudah semakin tua. Istrinya Ibrahim sarah merasa bahwa dirinya merasa mandul dan tak bisa memberikan keturunan kepada Ibrahim sebagai penerus kelak.

Akhirnya Sarah menyuruh Ibrahim menikahi budak perempuannya agar supaya Ibrahim ada penerusnya kelak untuk melanjutkan misi penegakkan TAUHI kepada Allah SWT.

QS. As Shaffaat 37:100-113

100. Ya Tuhanku, anugerhkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang sholeh.
101. Maka Kami beri kabar gembira dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail).

102. Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata. “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu,
InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

103. Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, (untuk melaksanakan perintah Allah).

104. Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim!,
105. Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
108. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,

109. “Salam sejahtera bagi Ibrahim.”
110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
111. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak seorang nabi yang termasuk orang-orang yang sholeh.

113. Dan Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Ishak. Dan diantara
keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula( yang terang-terangan berbuat dzholim terhadap dirinya sendiri.

Kisah di atas memberi pelajaran kepada kita untuk lebih mendahulukan Allah daripada
yang lainya. Liahtlah bagaimana Ibrahim rela menyembelih anaknya demi cinta dan ketaatannya terhadap perintah Allah daripada rasa cintanya kepada anaknya yang sangat di
harapkan kehadirannya untuk melanjutkan risalahnya, bagitu juga Ismail rela dan ikhlas
di sembelih demi melaksanakan perintah Allah.

Untuk ketaatannya itulah Allah tidak hanya menganugerahkan satu orang anak Ismail kepada Ibrahim, bahkan Allah pun lalu
kembali menganugerahkan satu orang anak lagi dari istrinya (Sarah) yaitu Ishak.

.